Jumat, 22 Februari 2019
Fana, Sebenarnya Tiada
Jumat, 08 Februari 2019
Hilang
Rabu, 16 Januari 2019
Kabar
Udah lama rasanya gak buka blog dan nulis blog. Sebelumnya biasanya persatu atau dua minggu ada kali beberapa kali posting. Kalau bertanya soal kabarku (siapapun pembaca blogku), saat ini aku baik-baik saja. Fisikku sehat, jiwaku juga sehat (Alhamdulillah). Kesibukanku saat ini skripsian dan pacaran. HAHA. Iya, budak cinta, ini perlu biar aku gak gila sama skripsi dan masa lalu. Aku masih suka mendengarkan instrumental, masih suka jalan-jalan, dan masih setengah ekstrovert:setengah introvert. Skripsiku tentang cedera jarum suntik, sebenarnya aku gak punya judul yang pasti, untung pembimbingku berbaik hati memberi. Aku emang udah berniat dari awal mau ngerjain apapun dan berharap semoga dikasih judul, eh beneran jadi kenyataan.
Saat ini aku agak kesulitan buat nyekripsi. Kalau di rumah, aku gak fokus. Baru mau ngerjain, disuruh ngangkat bak cucian. Baru mau ngerjain, disuruh matiin air ke bawah. Baru mau ngerjain, disuruh ngangkat gas dari lantai 1 ke lantai 2. Oke, aku cuma berharap dengan ngelaksanain apa yang diminta Ibu skripsiku jadi lebih lancar. Aamiin. Tapi tetep aja, ngumpulin mood buat ngerjainnya tidak mudah.
Alternatif lain aku ngerjain di coffee shop. Ini emang paling enak. Tapi, aku gak suka kalau sendiri. Alasannya jadi gak ada yang jagain barangku kalau aku mau ke toilet ataupun ibadah. Selain itu, laptopku baterainya bocor jadi harus nyolok, kalau dicabut langsung mati. Jadi terkadang aku nyari-nyari teman, kalau lagi gak ada teman yang di tempat ngopi itu yang susah. Sebenarnya bisa dititipin sama yang di meja sebelah, tapi aku orangnya gak percayaan.
Lalu, saat ini aku ingin kembali ke tempat kerjaku yang dulu. Mungkin ada pertentangan batin, tapi doakan saja lancar. Aku lebih tenang sekarang karena sudah punya sandaran juga. Sebenarnya kita gak boleh sih terlalu bersandar pada satu orang kalau kata Kak Qolbi, kita juga harus menyandarkan diri kita pada orang-orang lainnya. Mungkin yang dimaksud teman atau sahabat. Tapi terkadang ada yang tidak bisa diberikan oleh teman ataupun sahabat. Untuk saat ini, biarkan aku bersandar.
Yang terpenting aku juga harus ingat. Bisa jadi di saat jatuh, tidak ada orang di sekitarku. Kalau saat itu tiba, kata Kak Dea, "Kalau emang gak ada temen cerita yaudah nangis aja, nangis sampai lega. Nanti kalau sudah lega baru mikir lagi atau melakukan hal yang bikin lu seneng dan gak stres. Self love itu penting karena pada akhirnya cuma diri lu sendiri yang lu punya."
Sabtu, 05 Januari 2019
Iya
Tidak semua rasa dapat dicurahkan
Semua orang tidak sama
Aku pun juga
Ada rasa kecewa
Tapi tidak mau memaksa
Tidak semua kata bisa aku ucapkan
Tidak semua rasa bisa aku curahkan
Selasa, 11 Desember 2018
Temu
Kamis, 29 November 2018
Minggu, 25 November 2018
Freedom
Mungkin, gue gak akan memberikan protes, tapi gue juga gak berminat nurutin. Hanya menyimpan rasa jengah dan lama kelamaan jadi gak berminat melanjutkan hubungan. Gue akan uraikan alasannya satu per satu. Sebelum gue uraiin, boleh banget baca tulisan link di bawah ini.
https://threadreaderapp.com/thread/1034271213210677248.html
Kalau udah baca, gue bakal jelasin, karena sebagian alasan gue tertuang juga di artikel di atas.
1. Gak boleh bales chat, ngechat, ataupun main sama temen cowok.
Kehidupan gue bukan sama partner doang. Nantinya, gue bakal butuh relasi entah untuk bekerja atau menjalin hubungan baik saja. Gue rasa selama hubungan gue dengan cowok lain gak make hati, itu bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan secara berlebihan. Apalagi kalau gue mainnya rame-rame, bikin pusing aja. Kalau mau, lu mendingan kenalan sama temen-temen gue, biar kenal sekalian.
2. Gak boleh pake baju yang kebuka-buka.
4. Pakai hijab dong.
Kalian semua suci, aku penuh dosa. Iye gue berdosa, udeh.
Ada beberapa paragraf yang gue suka dari blognya Kak Kiki:
Hal yang gue dapet dari paragraf itu, orang yang kalian anggap penuh dosa belum tentu benar-benar penuh dosa. Bisa jadi, orang itu adalah satu-satunya orang yang akan menolong kalian di saat kalian susah.
Lalu, poin menarik dari threadnya Dinnah:
Sebuah hak asasi manusia utk mengekspresikan dirinya. Ketika dilarang, ada sikap utk memperjuangkan hak asasi itu.
Poin itu sangat menarik buat gue. Biasanya orang yang nyuruh gue pake jilbab gak gue bales apa-apa, cuma gue bales pake senyuman. Di chat juga gue bales pake emot senyum. Sampai saat itu ada orang yang sadar bahwa kayanya ada yang mengganjal dari balasan gue setelah dia ngeledek gue. Orang itu minta gue menyampaikan apa yang gue pikirkan, apa yang gue rasakan setelah dia mengatakan itu. Dia minta gue mengutarakan. Sebenernya gue bingung juga pas mau ngebales, kalaupun gue utarakan, gue takut balasan gue tidak cukup halus. Untuk membalas orang yang selama ini berhubungan baik dengan gue, gue gak bisa semena-mena karena takut menyinggung hatinya. Tapi dia bersikeras mau tau.
Alasan yang gue sampaikan saat itu:
"Aku tau pake jilbab kewajiban wanita muslim, tapi aku milih gak make (silakan jika ingin mengecap jelek). Karena suruhan itu ialah suruhan yang baik, aku gak mau ngelawan tapi gak aku lakukan juga. Biasanya aku cuma cengengesan aja, senyum aja.
Dulu, sebelum aku rajin solat. Kalau mamaku nyuruh solat juga gak aku jawab "iya" dan pura2 solat, aku juga gak jawab "gak mau". Tapi tak diemin."
Setelah gue sampaikan itu, ternyata dia bilang dia tidak akan mengecap apapun dan memang hanya mau mendengar pendapat gue. Tapi, sebenernya kaya masih ada yang kurang dari pendapat yang gue sampaikan, kaya, belum semua alasan yang gue sampaikan. Namun, gue sendiri gak tau apa yang belum tersampaikan. Sampai gue baca thread Dinnah, akhirnya gue sadar apa yang kurang.
Bahwa, tubuh gue adalah milik gue, kehidupan gue milik gue, kenapa orang lain harus memaksa hal yang seharusnya menjadi milik gue seutuhnya? Selama jilbab itu adalah pilihan pemakainya sendiri, gue juga sangat menghormati dan menghargai.
3. Ngabarin setiap detik, menit, jam.
Bolehkah kita berbicara di akhir hari? Ada kesibukan yang harus saya jalani :)
Jumat, 23 November 2018
Interaksi
"Pak, jemput aku dong di Stasiun Kebayoran, bawaanku banyak banget nih bawa oleh-oleh dari Bandung," mintaku dalam telepon dengan Bapak.
"Kamu pulang sendiri aja," jawab Bapak.
Kesel banget rasanya pas denger kaya gitu. Padahal, aku tau Bapak lagi libur dan lagi main catur di bawah pohon mangga. Temanku bahkan dijemput Bapaknya yang baru pulang kerja.
Hingga beberapa tahun kemudian.
Bapak lagi main catur di bawah pohon mangga dan aku mendatanginya.
"Pak, anterin aku dong ke rumah temenku di Pondok Ranji. Aku kalau naik kereta ribet soalnya bawa barang banyak dan rumah temenku masih jauh dari stasiun. Aku kan mau ngontrak di Bogor selama praktik sebulan ke depan," mintaku pada Bapak.
"Kamu ke sana sendiri aja, naik ojek online," jawab Bapak.
Denger penolakan kaya gini di saat Bapak yang jelas-jelas aku tau lagi libur kerja dan aku emang butuh dianter tuh rasanya bikin kesel dan sedih, langsung mengganggu suasana hati.
"Pak, anterin apa. Temenku aja dianterin sama Bapaknya, masa Bapak gak mau nganterin aku," mintaku lagi sambil merengek dengan rasa kesal di hati.
"Dimana emang?" tanya Bapak.
"Pondok Ranji, anterin naik motor," paksaku.
"Ayo," Bapak pun berdiri dan kami menuju rumah untuk mengambil barang yang akan dibawa.
Di sini senang banget rasanya. Senang karena diantar? Iya, salah satunya itu. Selain itu, aku senang karena sudah lama gak boncengan sama Bapak. Waktuku untuk keluarga rasanya semakin sedikit semenjak aku sibuk dengan part-time+kuliah dan Bapak sibuk dengan kerjaannya. Aku jadi pulang hanya untuk menghilangkan rasa lapar dan kantuk. Selain itu, aku terlalu disuruh kemana-mana sendiri. Kurang interaksi.
Sebenarnya hal yang wajar dan sangat aku maklumi kalau memang Bapak lagi kerja. Tapi kalau aku tau Bapak lagi libur rasanya mengesalkan sekali. Dibalik permintaan antar atau jemput, aku ingin kita ada interaksi. Terbukti, saat diantar, di atas motor aku banyak ngomong ke Bapak. Walaupun aku yang lebih banyak ngomong, tapi kita ada interaksi yang agak lama.
Mungkin permintaan-permintaan mudah seperti itu sering disepelekan. Tapi justru hal tersebut ialah permintaan agar terbentuk bonding, agar terjadi interaksi hingga membentuk obrolan yang hangat. Sesekali, aku mau menjadi Daddy's little girl.
Hati
Pada akhirnya hanya hati yang mampu menggerakan, untuk pergi atau menetap di tempat. Aku berterima kasih kepada orang-orang yang mau menjadi tempat curhat colongan dan memberikan saran yang menenangkan. Seperti biasanya, membuat penolakan itu sulit buatku, nggak enakan. Tapi aku juga tidak mau terus mengerjakan dengan hati yang tidak nyaman. Biarkan aku memulai sesuatu yang baru dan semoga ini menjadi landasan baru usai duka berkepanjangan di tempat yang dulu. Terima kasih juga untuk orang yang mendukungku, yang aku malu untuk menyampaikannya di awal, ternyata responnya membuat tersenyum dan menimbulkan semangat.
Selasa, 20 November 2018
Apakah?
Apakah semakin kita besar perihal mencintai itu menjadi semakin serius?
Apakah semakin kita besar rasa sayang dan cinta akan semakin dalam pula?
Kayanya kalau dibanding yang sebelum-sebelumnya perasaan yang gue rasain beda deh.
Yang sekarang jadi lebih dalam...
