Terkadang merasa sulit untuk memulai pembicaraan. Disaat aku ingin bercerita, yang terpikir pasti "apakah dia sedang sibuk?" dan berakhir dengan menunda cerita. Hingga, mood untuk bercerita sudah benar-benar hilang dan kita baru berbicara. Isi pesan kita hanyalah sesuatu yang itu-itu saja.
Jumat, 29 September 2017
Senin, 25 September 2017
Kembali ke RumahMu
Terlalu perdulikah aku dengan dunia?
Hingga aku melupakan Engkau
Aku datang ke rumahMu ya Allah
Untuk mengadukan segala kegelisahan
Ampuni aku yang datang disaat susah
Di lain hal aku juga berpikir
Apakah Engkau ingin mengobrol denganku?
Hingga tidak satupun manusia ingin ku ajak bercerita
Dan hatiku ingin datang ke rumahMu
Terimalah aku untuk bertamu
Biarkan aku menyesapi hidangan ketenangan dariMu
Berilah aku ruang untuk berbincang denganMu
Tunjukan jalan keluar yang terbaik atas segala masalahku
Sungguh, memang hanya Engkau tempat kembali
Sungguh, memang hanya Engkau tempat mengadu
Sungguh, memang hanya Engkau tempat meminta
Sungguh, memang hanya Engkau tempat berserah
Dengarlah ceritaku ya Tuhan
Ampuni segala dosaku
Minggu, 24 September 2017
Pengharapan dan doa di malam hari
Hingga aku melupakan Engkau
Aku datang ke rumahMu ya Allah
Untuk mengadukan segala kegelisahan
Ampuni aku yang datang disaat susah
Di lain hal aku juga berpikir
Apakah Engkau ingin mengobrol denganku?
Hingga tidak satupun manusia ingin ku ajak bercerita
Dan hatiku ingin datang ke rumahMu
Terimalah aku untuk bertamu
Biarkan aku menyesapi hidangan ketenangan dariMu
Berilah aku ruang untuk berbincang denganMu
Tunjukan jalan keluar yang terbaik atas segala masalahku
Sungguh, memang hanya Engkau tempat kembali
Sungguh, memang hanya Engkau tempat mengadu
Sungguh, memang hanya Engkau tempat meminta
Sungguh, memang hanya Engkau tempat berserah
Dengarlah ceritaku ya Tuhan
Ampuni segala dosaku
Minggu, 24 September 2017
Pengharapan dan doa di malam hari
Matilah Aku Berdosa
Mungkinkah aku termakan karma?
Apakah aku terlalu sadis dalam berkata-kata?
Kenapa aku ingin seperti biasa?
Bukankah ini yang kuharap saat sedia kala?
Seperti katanya
Aku mulai terbiasa
Dan tiba-tiba berubah
Rasaku seperti tergeledah
Manusia memang tidak pernah bersyukur
Aku memang jarang bersyukur
Ya, aku memang manusia
Tempatnya salah dan dosa
Apakah aku terlalu sadis dalam berkata-kata?
Kenapa aku ingin seperti biasa?
Bukankah ini yang kuharap saat sedia kala?
Seperti katanya
Aku mulai terbiasa
Dan tiba-tiba berubah
Rasaku seperti tergeledah
Manusia memang tidak pernah bersyukur
Aku memang jarang bersyukur
Ya, aku memang manusia
Tempatnya salah dan dosa
Minggu, 10 September 2017
Rindu
Wahai engkau yang mengucap kata rindu
Aku sejenak menghentikan waktu
Pikiranku melayang tentang dirimu
Aku juga merasakan rindu :)
VH.
Aku sejenak menghentikan waktu
Pikiranku melayang tentang dirimu
Aku juga merasakan rindu :)
VH.
Jumat, 01 September 2017
Temu
Mungkinkan kita akan bertemu pada satu waktu?
Seperti di hari Sabtu ataupun malam Minggu
Saat kamu tidak sibuk dengan pekerjaanmu
Dan aku tidak diikat oleh kuliahku
Aku yakin kita akan bertemu suatu waktu
Saat kamu sudah tidak ingat dengan diriku
Disitu aku mungkin masih ingin melihatmu
Kita memandang tapi tidak mungkin bersatu
Dirimu pemberi rasa candu dalam setiap hariku
Kepergianmu tentu menimbulkan rasa sendu
Kamu pernah satu kali meninggalkanku
Aku harap itu hanya terjadi di masa lalu
Walaupun dalam pengawasan terselubungmu
Tetap saja aku tidak tahu bahwa tetap ada dirimu
Mulai sekarang jangan pergi lagi dari jangkauanku
Bersama kita diantar oleh sang waktu
Menuju takdirku dan takdirmu
Yang telah diatur oleh Tuhanku dan Tuhanmu
Semoga waktu selalu berbaik hati padaku dan padamu
Hingga memberikan masa depan yang baik untukku dan untukmu
VH.
Seperti di hari Sabtu ataupun malam Minggu
Saat kamu tidak sibuk dengan pekerjaanmu
Dan aku tidak diikat oleh kuliahku
Aku yakin kita akan bertemu suatu waktu
Saat kamu sudah tidak ingat dengan diriku
Disitu aku mungkin masih ingin melihatmu
Kita memandang tapi tidak mungkin bersatu
Dirimu pemberi rasa candu dalam setiap hariku
Kepergianmu tentu menimbulkan rasa sendu
Kamu pernah satu kali meninggalkanku
Aku harap itu hanya terjadi di masa lalu
Walaupun dalam pengawasan terselubungmu
Tetap saja aku tidak tahu bahwa tetap ada dirimu
Mulai sekarang jangan pergi lagi dari jangkauanku
Bersama kita diantar oleh sang waktu
Menuju takdirku dan takdirmu
Yang telah diatur oleh Tuhanku dan Tuhanmu
Semoga waktu selalu berbaik hati padaku dan padamu
Hingga memberikan masa depan yang baik untukku dan untukmu
VH.
Janji Pernikahan
Aku menerima,
pasanganku untuk menjadi suami/istri,
untuk memiliki dan menerima,
mulai hari ini dan seterusnya,
dalam suka dan duka,
kaya maupun miskin,
dalam sakit dan sehat,
untuk saling menyayangi dan menghargai,
hingga maut memisahkan,
dengan bimbingan Tuhan
dan karena itu saya menyerahkan jiwa raga ini untukmu.
Gak tau kenapa suka banget sama janji pernikahan ini dari pertama kali denger di sebuah film. Agak lupa film apa, udah lama sih taunya. Kayanya seriesnya twilight tapi lupa persisnya yang mana. Yaaa... Milik kepercayaan sebelah sih.. Tapi gak apalah ya.
pasanganku untuk menjadi suami/istri,
untuk memiliki dan menerima,
mulai hari ini dan seterusnya,
dalam suka dan duka,
kaya maupun miskin,
dalam sakit dan sehat,
untuk saling menyayangi dan menghargai,
hingga maut memisahkan,
dengan bimbingan Tuhan
dan karena itu saya menyerahkan jiwa raga ini untukmu.
Gak tau kenapa suka banget sama janji pernikahan ini dari pertama kali denger di sebuah film. Agak lupa film apa, udah lama sih taunya. Kayanya seriesnya twilight tapi lupa persisnya yang mana. Yaaa... Milik kepercayaan sebelah sih.. Tapi gak apalah ya.
Rabu, 30 Agustus 2017
Penurunan
Puisiku sudah tidak seindah dulu
Tulisanku sudah tidak sebaik dulu
Khayalanku sudah tidak seliar dulu
Postinganku sudah tidak sesering dulu
Kalimatku sudah terpaku
Inspirasiku direnggut oleh sesuatu
Pikiranku mulai buntu
Kehidupanku padat dengan tugas utamaku
Tuhan...
Selesaikan hatinya
Tuhan...
Pindahkanlah cintanya
Tuhan...
Aku sangat-sangat terganggu oleh kelakuannya
Tulisanku sudah tidak sebaik dulu
Khayalanku sudah tidak seliar dulu
Postinganku sudah tidak sesering dulu
Kalimatku sudah terpaku
Inspirasiku direnggut oleh sesuatu
Pikiranku mulai buntu
Kehidupanku padat dengan tugas utamaku
Tuhan...
Selesaikan hatinya
Tuhan...
Pindahkanlah cintanya
Tuhan...
Aku sangat-sangat terganggu oleh kelakuannya
Harapan dan Kenyataan
Beberapa watak diciptakan berbeda
Sifat memiliki dua sisi
Dunia selalu memiliki beraga cerita
Manusia menjadi bidak dalam kehidupan
Aku berharap bisa membeli rasa
Jika tidak bisa
Aku berharap bisa membeli perlakuan
Namun tetap tidak bisa
Aku berharap bisa mengatur perlakuan
Engkau mungkin mudah mengatur emosi
Berbeda dengan anak kecil
Aku sudah lelah berpura-pura
Kekesalan selalu muncul bersamaan dengan perhatian
Bukan perhatian darimu tapi darinya
Mungkin wanita sedikit rumit
Menginginkan hubungan yang baik tanpa maksud ada tujuan lain
Ingin menjauh tapi suatu saat akan butuh
Ingin biasa saja tapi tidak nyaman
Kenapa yang muncul dirinya?
Tidak bisakah engkau yang kuharap dapat muncul
Apakah aku saat ini sedang menjadi bidak?
Apakah sedang dalam sebuah permainan?
Tidak adakah alternatif lainnya?
Kenapa aku terus dijalankan kepada dia?
Sungguh.
Muak.
Sudah berapa kali ngacangin orang lalu tiba-tiba butuh bantuan orang tersebut, usaha jadi gagal semua karena harus membaik-baiki orang tersebut walaupun tidak suka dengan perlakuannya.
Sifat memiliki dua sisi
Dunia selalu memiliki beraga cerita
Manusia menjadi bidak dalam kehidupan
Aku berharap bisa membeli rasa
Jika tidak bisa
Aku berharap bisa membeli perlakuan
Namun tetap tidak bisa
Aku berharap bisa mengatur perlakuan
Engkau mungkin mudah mengatur emosi
Berbeda dengan anak kecil
Aku sudah lelah berpura-pura
Kekesalan selalu muncul bersamaan dengan perhatian
Bukan perhatian darimu tapi darinya
Mungkin wanita sedikit rumit
Menginginkan hubungan yang baik tanpa maksud ada tujuan lain
Ingin menjauh tapi suatu saat akan butuh
Ingin biasa saja tapi tidak nyaman
Kenapa yang muncul dirinya?
Tidak bisakah engkau yang kuharap dapat muncul
Apakah aku saat ini sedang menjadi bidak?
Apakah sedang dalam sebuah permainan?
Tidak adakah alternatif lainnya?
Kenapa aku terus dijalankan kepada dia?
Sungguh.
Muak.
Sudah berapa kali ngacangin orang lalu tiba-tiba butuh bantuan orang tersebut, usaha jadi gagal semua karena harus membaik-baiki orang tersebut walaupun tidak suka dengan perlakuannya.
Senin, 21 Agustus 2017
Hanya Curhatan..
Dunia dan seisinya memang kejam. Semakin besar, semakin banyak kenyataan yang membuatku jadi banyak pikiran.
Kemarin pulang dari sebuah aktivitas mencari pundi-pundi uang, aku jalan ke sebuah mal daerah Jakarta bersama beberapa teman. Sebut saja namanya L, T, Q, R, dan S. Awalnya aku kira akan makan sushi, ternyata pas sudah sampai sana, gak jadi makan sushi malah jadi makan AW. Yaudahlah.
Seusai makan, seperti orang-orang pada umumnya. Kita mengobrol dahulu. Berbagai macam hal kita obrolin, termasuk ghibahin orang juga (Astaghfirullahaladzim wkwk). Aku cuma mendengarkan, tidak terlalu banyak berbicara karena kondisiku sedang teler alias setengah ngantuk dan lelah. Sesekali aku memancing dengan pertanyaan karena penasaran. Namun, sampai pada beberapa perkataan dari salah seorang dari kelima temanku ini aku merasa.... dia muka dua.
Jujur aja saat dia membicarakan seseorang, ya sebut saja namanya D. Dia bilang "kalau D naik jabatan, gue resign". Jujur aja, waktu dia ngomong gitu aku merasa dia muka dua. Astaga. Aku inget dulu saat jalan bareng ke luar negeri. Dia sering ngobrol sama D dan salah satu isi obrolannya dia ngedukung D biar jabatannya naik. Aku lupa kalimatnya gimana, pokoknya dia mendukung si D untuk dekat dengan salah satu bos karena jaman sekarang itu ya kaya gitu. Maksudnya kaya lirik lagunya Aw Karin yang ini :
hati-hati jaman sekarang
banyak orang berteman punya maksud tujuan
mengumbar kedekatan mencari keuntungan
Teman saya ini mendukung supaya D ngedeketin salah satu bos biar bisa naik jabatannya.
Edanlah.
Usai ngobrol-ngobrol di AW. Aku pisah, aku pulang duluan bersama R dan S karena udah jam 9 dan harus nyetir motor, daripada nyetir sambil merem nantinya mending balik duluan dah. Sebelum ke parkiran motor, aku nemenin R dulu ambil uang dan S beli puyo. Kita pisah sama S, jadi S beli puyo, aku nemenin R ngambil uang terus nanti ketemu di depan store puyo biar gak kelamaan.
Kebetulan, R ini teman dekatku. Aku bilang hal itu, aku bilang aku merasa L muka dua. Aku bilang aku takut. Aku takut, dunia kenapa kejam banget. Aku takut kalau aku ada di posisi orang yang dia muka duain. Takut. Kenapa semakin besar, semakin beragam pula sifat manusia yang kita temukan? Kenapa ada sifat buruk seperti itu? Kenapa semakin lama bekerja, maka semakin terlihat jelas bagaimana sifat semua orang.
Aku takut dengan orang-orang yang bermuka dua.
Aku takut dengan orang-orang yang berteman dengan maksud tujuan tertentu.
Bisakah kita berteman secara gamblang? Jika tidak suka denganku, silahkan katakan ke aku langsung..
Kemarin pulang dari sebuah aktivitas mencari pundi-pundi uang, aku jalan ke sebuah mal daerah Jakarta bersama beberapa teman. Sebut saja namanya L, T, Q, R, dan S. Awalnya aku kira akan makan sushi, ternyata pas sudah sampai sana, gak jadi makan sushi malah jadi makan AW. Yaudahlah.
Seusai makan, seperti orang-orang pada umumnya. Kita mengobrol dahulu. Berbagai macam hal kita obrolin, termasuk ghibahin orang juga (Astaghfirullahaladzim wkwk). Aku cuma mendengarkan, tidak terlalu banyak berbicara karena kondisiku sedang teler alias setengah ngantuk dan lelah. Sesekali aku memancing dengan pertanyaan karena penasaran. Namun, sampai pada beberapa perkataan dari salah seorang dari kelima temanku ini aku merasa.... dia muka dua.
Jujur aja saat dia membicarakan seseorang, ya sebut saja namanya D. Dia bilang "kalau D naik jabatan, gue resign". Jujur aja, waktu dia ngomong gitu aku merasa dia muka dua. Astaga. Aku inget dulu saat jalan bareng ke luar negeri. Dia sering ngobrol sama D dan salah satu isi obrolannya dia ngedukung D biar jabatannya naik. Aku lupa kalimatnya gimana, pokoknya dia mendukung si D untuk dekat dengan salah satu bos karena jaman sekarang itu ya kaya gitu. Maksudnya kaya lirik lagunya Aw Karin yang ini :
hati-hati jaman sekarang
banyak orang berteman punya maksud tujuan
mengumbar kedekatan mencari keuntungan
Teman saya ini mendukung supaya D ngedeketin salah satu bos biar bisa naik jabatannya.
Edanlah.
Usai ngobrol-ngobrol di AW. Aku pisah, aku pulang duluan bersama R dan S karena udah jam 9 dan harus nyetir motor, daripada nyetir sambil merem nantinya mending balik duluan dah. Sebelum ke parkiran motor, aku nemenin R dulu ambil uang dan S beli puyo. Kita pisah sama S, jadi S beli puyo, aku nemenin R ngambil uang terus nanti ketemu di depan store puyo biar gak kelamaan.
Kebetulan, R ini teman dekatku. Aku bilang hal itu, aku bilang aku merasa L muka dua. Aku bilang aku takut. Aku takut, dunia kenapa kejam banget. Aku takut kalau aku ada di posisi orang yang dia muka duain. Takut. Kenapa semakin besar, semakin beragam pula sifat manusia yang kita temukan? Kenapa ada sifat buruk seperti itu? Kenapa semakin lama bekerja, maka semakin terlihat jelas bagaimana sifat semua orang.
Aku takut dengan orang-orang yang bermuka dua.
Aku takut dengan orang-orang yang berteman dengan maksud tujuan tertentu.
Bisakah kita berteman secara gamblang? Jika tidak suka denganku, silahkan katakan ke aku langsung..
Minggu, 13 Agustus 2017
Selamat Tinggal dan Selamat Datang
Untuknya yang muncul dan hilang
Untuknya yang datang dan pergi
Untuknya yang hadir dan tenggelam
Melihatmu kembali merupakan anugerah
Malam ini
Ku baca ulang berbagai percakapan
Dari yang masih ada hingga yang seharusnya sudah tiada
Saat pamit dan kembali
Kembali kubayangkan kebahagiaanku
Ketika muncul sebuah pesan
Setelah penantian
02.10.2014.11.35
20.02.2016.07.09
2 tahun bersama puisiku
Gila. Kok bisa ya?
Kehilangan membuatku harus ingat dengan syukur
Bahwa saat ini tidak hilang seperti dulu
Manusia memang selalu menginginkan yang tidak dimiliki
Raga ini pun menyelam lewat cermin
Di saat syukur dimulai
Di saat itu pula perasaan bermain dengan lihai
Di saat syukur dimulai
Di saat itu pula keadaan berperai
Di saat itu, aku harus memulai syukur
VH.
Untuknya yang datang dan pergi
Untuknya yang hadir dan tenggelam
Melihatmu kembali merupakan anugerah
Malam ini
Ku baca ulang berbagai percakapan
Dari yang masih ada hingga yang seharusnya sudah tiada
Saat pamit dan kembali
Kembali kubayangkan kebahagiaanku
Ketika muncul sebuah pesan
Setelah penantian
02.10.2014.11.35
20.02.2016.07.09
2 tahun bersama puisiku
Gila. Kok bisa ya?
Kehilangan membuatku harus ingat dengan syukur
Bahwa saat ini tidak hilang seperti dulu
Manusia memang selalu menginginkan yang tidak dimiliki
Raga ini pun menyelam lewat cermin
Di saat syukur dimulai
Di saat itu pula perasaan bermain dengan lihai
Di saat syukur dimulai
Di saat itu pula keadaan berperai
Di saat itu, aku harus memulai syukur
VH.
Jumat, 11 Agustus 2017
Bahasa
Kata orang, ikatan bathin itu ada tapi tidak terlihat. Dan keinginan bisa tersampaikan walau tidak terucap.
Aku percaya dengan hal itu. Bukankah sebelum manusia mengenal kata, mereka berbicara dengan isyarat dan insting. Sebelum manusia mengenal kata, mereka berbicara dengan bahasa tubuh tanpa suara. Sebelum manusia mengenal kata, mereka berbicara dengan bahasa tanpa makna.
Setiap manusia pasti memiliki kepekaan, masalahnya hanya pada penerimaan. Apakah mau menerima dugaannya atau tidak.
Semoga, semoga, dan semoga :)
Aku percaya dengan hal itu. Bukankah sebelum manusia mengenal kata, mereka berbicara dengan isyarat dan insting. Sebelum manusia mengenal kata, mereka berbicara dengan bahasa tubuh tanpa suara. Sebelum manusia mengenal kata, mereka berbicara dengan bahasa tanpa makna.
Setiap manusia pasti memiliki kepekaan, masalahnya hanya pada penerimaan. Apakah mau menerima dugaannya atau tidak.
Semoga, semoga, dan semoga :)
Langganan:
Postingan (Atom)