Rabu, 22 Maret 2023

Am I Still Your Home In The Next 1292378268 Days?

Katamu, aku seperti rumah bagimu
Apakah aku akan tetap sama bagimu di kemudian hari?
Karena, aku mendengarnya hari ini, di kala bunga baru merekah
Akankah aku tetap menjadi rumah bagimu di esok hari?

Kamu, mungkin akan kesal, bosan, dan malas denganku
Kamu, mungkin akan mencuekanku 
Kamu, mungkin akan melupakanku di kemudian hari
Rasamu mungkin tidak akan bertahan lama untukku

Jadi, jangan bilang aku seperti rumah bagimu saat ini
Bilang itu jika kamu sudah mengenalku dan bersama denganku hingga rambut berubah warna
Karena mulut bisa saja berdusta
Karena hati bisa saja berubah

641

Kontemplasi

Aku terpikirkan akan ucapan salah seorang teman kantor. 
"Tadi gue nangis pas salat Jumat," ucap Mas S, "awalnya gue udah mau tidur tuh, terus pas gue fokusin ceramahnya, lah kok ustadnya nyebelin ya," lanjutnya. 
"Ceramahnya tentang mau Ramadhan, sudah pada minta maaf belum sama orang tua?" ucapnya lagi, "ternyata bukan gue doang yang nangis, ada suara tangisan lainnya juga."
Aku menyimak dan memperhatikan ia bercerita. Kebetulan Mas S ini salah satu orang tuanya sudah dipanggil Allah swt.

Lalu, aku hingga beberapa hari ke depan masih kepikiran tentang ucapannya di kantor. Kalau dipikir-pikir, benar juga ya. 

Menjelang Ramadhan, aku banyak mendapatkan ucapan permintaan maaf dari rekan-rekan, baik secara langsung ataupun tidak langsung, seperti melalui media sosial. Namun, sudahkah kita meminta maaf ke orang tua kita? 

Aku kepikiran berhari-hari. Sudahkah aku minta maaf ke orang tuaku? Ke Ibu dan Bapakku?

Akhirnya, aku memberanikan diri meminta maaf ke Ibuku, walaupun sambil malu-malu, karena gimana ya, hahaha kaya aneh gitu minta maaf ke keluarga. Tapi, gak ada salahnya kan minta maaf ke orang tua? Malah bagus. 

PRnya tinggal minta maaf ke Bapak aja nih. Semoga ada waktu dan momen yang tepat ya untuk minta maaf dan Tuhan meredakan ego dan gengsiku. 

Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan semua☺
Semoga damai dan berkah Ramadhan selalu membersamai kita

Minggu, 08 Januari 2023

What Is Love?

I don't know what can I do more for love. I don't know what is love.

Cinta yang dimaksud di sini adalah cinta kepada lawan jenis. Bukan cinta, kasih, dan sayang kepada keluarga.

Sebenernya cinta itu perasaan yang gimana sih?
Aku pernah merasakan sesuatu terasa naik ke dada ketika bertemu dengannya dan itu bikin bahagia. Apa ini cinta?
Aku juga pernah ngerasain rasa bahagia usai bertemu dengannya. Apakah ini cinta?
Aku pernah merasa bersyukur bahwa dia masih diberikan kesehatan, walaupun dia tidak sama aku. Apakah ini juga cinta?

Lalu, kalau aku gak lagi ngerasain rasa berterbangan di dada, apakah itu artinya aku sudah tidak cinta?
Kalau aku ngerasa biasa aja habis ketemu, bahkan kesal atau sedih, apakah itu artinya aku udah gak cinta?
Kalau aku ngerasa gak bisa bersyukur atas nikmat sederhana yang dia miliki, seperti kesehatan ataupun kebahagiaan, apakah itu artinya aku udah gak cinta?

Hal ini juga berlaku untuk lawannya.
Kalau kamu tidak lagi merasakan rasa berterbangan di dada ketika bertemu aku, apakah itu artinya kamu sudah tidak cinta?
Kalau kamu tidak lagi merasa senang usai pertemuan denganku, apakah itu artinya kamu sudah tidak cinta?
Kalau kamu tidak bisa bersyukur melihatku sehat dan bahagia, apakah kamu sudah tidak cinta?

Jadi sebenarnya, apa itu cinta dalam artian romansa?

Confused in love.

8 January 2023
12:24 am

Rabu, 04 Januari 2023

Banjir dan Syukurku Hari Ini

Hari ini Jakarta dilanda hujan lebat. Seorang teman sudah mengabarkanku melalui Whatsapp kalau jalanan rumah banjir tinggi. Padahal kantorku tidak hujan sama sekali, panas malahan. Memang Jakarta Barat dan Jakarta Selatan terkadang berbeda. Awalnya aku bingung dan setelah menunggu di kantor sampai jam 18, padahal sudah bisa pulang dari jam 16. Akhirnya aku memutuskan... ah gas aja deh, pulang. 

Ketika sampai di depan gang rumah, benar saja banjir tinggi sekali. Aku nekat pulang melewati banjir setinggi paha. Motorku aku tinggal di pinggir jalan depan gang dan aku berjalan kaki melewati rumah-rumah. 

Aku melihat ke dalam rumah yang aku lewati, beberapa rumah pintunya terbuka. Aku lihat di dalamnya ada seorang ibu dan dua anak perempuannya sedang duduk sambil menonton televisi dengan kondisi dalam rumahnya tergenang air banjir. Mereka duduk santai sambil meluruskan kaki dan kaki mereka diletakan di atas dingklik agar tidak terkena air banjir. 

Aku seketika bersyukur melihat itu. Aku bersyukur rumahku tidak sampai masuk air banjir, walaupun depan rumah banjirnya sudah sepaha. Jadi, aku, ibu, bapak, dan adik tidak perlu beres-beres rumah karena banjir. Kita tidak perlu mengepel lantai bekas banjir. 

Sedang terkena musibah seperti ini saja aku masih bersyukur. Kadang aku juga heran dengan diriku, sepertinya rasa syukurku cukup tinggi ya? Semoga aku selalu bisa melihat nikmat-nikmat yang sudah Tuhan berikan dan semoga aku selalu bisa bersyukur atas segala nikmat-nikmat dari Nya. 

Senin, 02 Januari 2023

Davidoff

Aroma itu menyeruak mengisi tubuhku
Pikiranku melayang padamu dan aku rindu
Aku tahu, suatu saat kamu pasti akan meninggalkanku
Suatu saat kamu akan melupakanku

641.

Jumat, 21 Oktober 2022

Titik Tumpu

Titik tumpuku itu kamu.

Spark Joy

Apa yang kamu rasakan ketika sedang jatuh cinta?
Kamu bisa merasakan tubuhmu mengalami getaran-getaran dan aliran darahmu juga terasa
Kamu ingin sering bertemu dan merindu
Kamu merasa ada kupu-kupu di dada
Masihkah semua hal itu terasa padamu?

Minggu, 16 Oktober 2022

Menurut

Aku teringat dengan pembicaraanku dengan salah satu teman kantorku di hari Jumat lalu. Saat itu aku sedang menyelesaikan daily task puzzle di laman www.chess.com. 

Saat itu temanku ingin meminjam stapler-ku, sebut saja namanya Lio (bukan nama asli). 
Lio: "Fa, minjem stapler dong."
Aku: "Tuh," sambil menunjuk ke arah tempat stapler di depanku.
Lio: "Fa, pinjem stapler tolong."
Aku: "Tuh," masih sama, sambil menunjuk ke arah tempat stapler di depanku.
Lio: "Ya Allah, Fa, tolong ambilin, kan gue udah minta tolong dari tadi."
Aku: "Itu, ya Allah tinggal ngambil doang," jawabku.
Lio: "Ya ambilin, Fa, kan barang lu."
Ini aku agak kesel karena barangnya terpampang nyata di atas meja, tidak ada di dalam tas ataupun laci-laci. Dia tinggal ambil aja, gak perlu buka-buka ini-itu. Dia juga duduknya di belakangku dan sudah menghadap ke arahku, tinggal ambil aja gitu loh, apa susahnya sih. Dia juga kan udah minta izin ke aku dan udah aku kasih izin. 

Akhirnya aku ambilin karena malas dengar dia ngoceh. 
Aku: "Nih," sambil menyerahkan stapler-nya.

Lalu, aku kembali fokus ke layar komputerku. Dan, dia tiba-tiba ngoceh lagi.
Lio: "Lu tuh harus nurut sama suami."
Otomatis aku langsung refleks nengok ke belakang, terus jawab pakai nada tinggi. 
Aku: "Eh, lu bukan suami gue ye!"
Lalu, orang-orang yang jam istirahatnya tetap di kantor langsung menengok ke arahku dan Lio. Koordinatorku yang duduk di sebelah Lio langsung melihat ke sekeliling orang di kantor lalu minta maaf. 
Koordinator: "Maaf ya guys, ini perdebatan rumah tangga."
Aku: "Maaf ya kakak-kakak."

Lio: "Maksudnya kalau nanti lu punya suami, Fa, jangan kaya gitu, lu harus nurut," sambung Lio menjawab ucapanku tadi. 
Aku: "Ya, lo kan bukan suami gue!"
Lio: "Ya kan udah gue klarifikasi, kalau nanti lo punya suami, lo jadi istri, lo harus nurut."
Gue dalem hati: WTF!

Gue kesel banget di sini sama perintah dia buat nurut sama suami.
1. Dia bukan suami gue. Kalimat dia jelas-jelas udah salah dari awal.
2. Itu barang yang dia minta bener-bener depan matanya, gue rasa kalaupun gue punya suami, suami gue kagak lumpuh ya sampe ngambil barang yang ada di depan mata yang gak harus jalan dan masih bisa dia gapai aja minta ambilin. 
3. Alih-alih nurut, gue lebih suka bicara dan diskusi dengan pasangan untuk mencari solusi, gak serta-merta nurut ini-itu. 
4. Gue paham kalau seorang istri harus nurut sama suami. Cuma, dengan orang tua yang udah mengurus dan mengasuh gue dari gue bayi aja, gue ada gak nurutnya. Apalagi sama suami yang baru aja mendampingi gue di usia dewasa gue. Cuma, gak gitu juga konsepnya. Gue akan berusaha mengikuti apa yang gue ingin ikuti, dan kalau ada hal-hal yang gue keberatan ya gue bakal bilang. Pasti akan ada aja pertengkaran ini itu ataupun diskusi ini itu, gak serta merta gue manut-manut aja gitu loh. 

Sekian kejadian Jumat kemarin dan pemikiran gue yang jauh kemana-mana. 

Jakarta, 16 Oktober 2022
Jam 23.53 WIB

Senin, 10 Oktober 2022

Bisakah Kamu Menerima Baik dan Burukku?

Bisakah kamu menerimaku seutuhnya?
Aku bukanlah manusia yang sempurna dan selalu hanya ada kebaikan di dalamnya. Aku campuran dari baik dan buruknya manusia. Aktivitasku tidak hanya seputar pahala, tapi juga bercampur dosa. Bukankah setiap manusia memiliki dosanya masing-masing?

Hampir setiap manusia memiliki kecenderungan jalan dosanya. Setiap manusia memiliki kenakalan dan kebaikannya masing-masing. Bisakah pasanganku menerimaku seutuhnya? Bisakah ia mendengar segala celotehanku, entah tentang kebaikan atau keburukanku? 

Selayaknya aku yang ingin mengenal baik dan buruknya dan mencoba untuk mendampinginya. Seperti aku yang menemani jalan pahala dan dosanya. Bisakah ia mendampingi jalanku juga?

Aku ingin berbicara tentang berbagai hal denganmu. Aku ingin mengatakan isi pikiranku yang bermacam-macam. Dengarkan aku... aku hanya ingin mengatakannya kepadamu, bukan yang lainnya. Aku sedang tidak ingin kamu nilai, cukup dengarkan aku dan belajarlah mengenal keburukanku juga. Karena aku bukanlah satu sisi saja. Atau, kamu memang hanya ingin mengenalku dari satu sisi saja?

Aku bukan manusia sempurna. Jangan hanya kamu lihat aktivitas ibadahku saja dan tutup mata dengan lainnya. Tapi juga ketika aku melakukan dosa. Terimalah baik dan burukku, dampingi aku, karena sesungguhnya aku bukanlah manusia yang sempurna.

Sudahkah kamu memperbaiki dirimu hingga kamu bisa memandangku seburuk itu? 

Senin, 10 Oktober 2022
23.57 WIB
641 and maybe also for others.