Selasa, 10 Oktober 2017

Muse

Just a little bit of text can make my day better
Waiting the unanswered text can make me feel bitter
Thank you for the attention when me need
If you ask about to stay
The answer is:
I wouldn't bored with you and I'll stay
Because you're my muse
And always be my muse
VH

Jumat, 29 September 2017

Tulisan Beberapa Minggu yang Lalu

Terkadang merasa sulit untuk memulai pembicaraan. Disaat aku ingin bercerita, yang terpikir pasti "apakah dia sedang sibuk?" dan berakhir dengan menunda cerita. Hingga, mood untuk bercerita sudah benar-benar hilang dan kita baru berbicara. Isi pesan kita hanyalah sesuatu yang itu-itu saja.


Senin, 25 September 2017

Kembali ke RumahMu

Terlalu perdulikah aku dengan dunia?
Hingga aku melupakan Engkau
Aku datang ke rumahMu ya Allah
Untuk mengadukan segala kegelisahan

Ampuni aku yang datang disaat susah
Di lain hal aku juga berpikir
Apakah Engkau ingin mengobrol denganku?
Hingga tidak satupun manusia ingin ku ajak bercerita
Dan hatiku ingin datang ke rumahMu

Terimalah aku untuk bertamu
Biarkan aku menyesapi hidangan ketenangan dariMu
Berilah aku ruang untuk berbincang denganMu
Tunjukan jalan keluar yang terbaik atas segala masalahku

Sungguh, memang hanya Engkau tempat kembali
Sungguh, memang hanya Engkau tempat mengadu
Sungguh, memang hanya Engkau tempat meminta
Sungguh, memang hanya Engkau tempat berserah

Dengarlah ceritaku ya Tuhan
Ampuni segala dosaku

Minggu, 24 September 2017
Pengharapan dan doa di malam hari

Matilah Aku Berdosa

Mungkinkah aku termakan karma?
Apakah aku terlalu sadis dalam berkata-kata?
Kenapa aku ingin seperti biasa?
Bukankah ini yang kuharap saat sedia kala?

Seperti katanya
Aku mulai terbiasa
Dan tiba-tiba berubah
Rasaku seperti tergeledah

Manusia memang tidak pernah bersyukur
Aku memang jarang bersyukur
Ya, aku memang manusia
Tempatnya salah dan dosa

Minggu, 10 September 2017

Rindu

Wahai engkau yang mengucap kata rindu
Aku sejenak menghentikan waktu
Pikiranku melayang tentang dirimu
Aku juga merasakan rindu :)

VH.

Jumat, 01 September 2017

Temu

Mungkinkan kita akan bertemu pada satu waktu?
Seperti di hari Sabtu ataupun malam Minggu
Saat kamu tidak sibuk dengan pekerjaanmu
Dan aku tidak diikat oleh kuliahku

Aku yakin kita akan bertemu suatu waktu
Saat kamu sudah tidak ingat dengan diriku
Disitu aku mungkin masih ingin melihatmu
Kita memandang tapi tidak mungkin bersatu

Dirimu pemberi rasa candu dalam setiap hariku
Kepergianmu tentu menimbulkan rasa sendu
Kamu pernah satu kali meninggalkanku
Aku harap itu hanya terjadi di masa lalu

Walaupun dalam pengawasan terselubungmu
Tetap saja aku tidak tahu bahwa tetap ada dirimu
Mulai sekarang jangan pergi lagi dari jangkauanku
Bersama kita diantar oleh sang waktu

Menuju takdirku dan takdirmu
Yang telah diatur oleh Tuhanku dan Tuhanmu
Semoga waktu selalu berbaik hati padaku dan padamu
Hingga memberikan masa depan yang baik untukku dan untukmu

VH.

Janji Pernikahan

Aku menerima,
pasanganku untuk menjadi suami/istri,
untuk memiliki dan menerima,
mulai hari ini dan seterusnya,
dalam suka dan duka,
kaya maupun miskin,
dalam sakit dan sehat,
untuk saling menyayangi dan menghargai,
hingga maut memisahkan,
dengan bimbingan Tuhan
dan karena itu saya menyerahkan jiwa raga ini untukmu.

Gak tau kenapa suka banget sama janji pernikahan ini dari pertama kali denger di sebuah film. Agak lupa film apa, udah lama sih taunya. Kayanya seriesnya twilight tapi lupa persisnya yang mana. Yaaa... Milik kepercayaan sebelah sih.. Tapi gak apalah ya.

Rabu, 30 Agustus 2017

Penurunan

Puisiku sudah tidak seindah dulu
Tulisanku sudah tidak sebaik dulu
Khayalanku sudah tidak seliar dulu
Postinganku sudah tidak sesering dulu

Kalimatku sudah terpaku
Inspirasiku direnggut oleh sesuatu
Pikiranku mulai buntu
Kehidupanku padat dengan tugas utamaku

Tuhan...
Selesaikan hatinya
Tuhan...
Pindahkanlah cintanya
Tuhan...
Aku sangat-sangat terganggu oleh kelakuannya

Harapan dan Kenyataan

Beberapa watak diciptakan berbeda
Sifat memiliki dua sisi
Dunia selalu memiliki beraga cerita
Manusia menjadi bidak dalam kehidupan

Aku berharap bisa membeli rasa
Jika tidak bisa
Aku berharap bisa membeli perlakuan
Namun tetap tidak bisa

Aku berharap bisa mengatur perlakuan
Engkau mungkin mudah mengatur emosi
Berbeda dengan anak kecil
Aku sudah lelah berpura-pura

Kekesalan selalu muncul bersamaan dengan perhatian
Bukan perhatian darimu tapi darinya
Mungkin wanita sedikit rumit
Menginginkan hubungan yang baik tanpa maksud ada tujuan lain

Ingin menjauh tapi suatu saat akan butuh
Ingin biasa saja tapi tidak nyaman
Kenapa yang muncul dirinya?
Tidak bisakah engkau yang kuharap dapat muncul

Apakah aku saat ini sedang menjadi bidak?
Apakah sedang dalam sebuah permainan?
Tidak adakah alternatif lainnya?
Kenapa aku terus dijalankan kepada dia?

Sungguh.
Muak.
Sudah berapa kali ngacangin orang lalu tiba-tiba butuh bantuan orang tersebut, usaha jadi gagal semua karena harus membaik-baiki orang tersebut walaupun tidak suka dengan perlakuannya.

Senin, 21 Agustus 2017

Hanya Curhatan..

Dunia dan seisinya memang kejam. Semakin besar, semakin banyak kenyataan yang membuatku jadi banyak pikiran.

Kemarin pulang dari sebuah aktivitas mencari pundi-pundi uang, aku jalan ke sebuah mal daerah Jakarta bersama beberapa teman. Sebut saja namanya L, T, Q, R, dan S. Awalnya aku kira akan makan sushi, ternyata pas sudah sampai sana, gak jadi makan sushi malah jadi makan AW. Yaudahlah.

Seusai makan, seperti orang-orang pada umumnya. Kita mengobrol dahulu. Berbagai macam hal kita obrolin, termasuk ghibahin orang juga (Astaghfirullahaladzim wkwk). Aku cuma mendengarkan, tidak terlalu banyak berbicara karena kondisiku sedang teler alias setengah ngantuk dan lelah. Sesekali aku memancing dengan pertanyaan karena penasaran. Namun, sampai pada beberapa perkataan dari salah seorang dari kelima temanku ini aku merasa.... dia muka dua.

Jujur aja saat dia membicarakan seseorang, ya sebut saja namanya D. Dia bilang "kalau D naik jabatan, gue resign". Jujur aja, waktu dia ngomong gitu aku merasa dia muka dua. Astaga. Aku inget dulu saat jalan bareng ke luar negeri. Dia sering ngobrol sama D dan salah satu isi obrolannya dia ngedukung D biar jabatannya naik. Aku lupa kalimatnya gimana, pokoknya dia mendukung si D untuk dekat dengan salah satu bos karena jaman sekarang itu ya kaya gitu. Maksudnya kaya lirik lagunya Aw Karin yang ini :

hati-hati jaman sekarang
banyak orang berteman punya maksud tujuan
mengumbar kedekatan mencari keuntungan

Teman saya ini mendukung supaya D ngedeketin salah satu bos biar bisa naik jabatannya.
Edanlah.

Usai ngobrol-ngobrol di AW. Aku pisah, aku pulang duluan bersama R dan S karena udah jam 9 dan harus nyetir motor, daripada nyetir sambil merem nantinya mending balik duluan dah. Sebelum ke parkiran motor, aku nemenin R dulu ambil uang dan S beli puyo. Kita pisah sama S, jadi S beli puyo, aku nemenin R ngambil uang terus nanti ketemu di depan store puyo biar gak kelamaan.

Kebetulan, R ini teman dekatku. Aku bilang hal itu, aku bilang aku merasa L muka dua. Aku bilang aku takut. Aku takut, dunia kenapa kejam banget. Aku takut kalau aku ada di posisi orang yang dia muka duain. Takut. Kenapa semakin besar, semakin beragam pula sifat manusia yang kita temukan? Kenapa ada sifat buruk seperti itu? Kenapa semakin lama bekerja, maka semakin terlihat jelas bagaimana sifat semua orang.
Aku takut dengan orang-orang yang bermuka dua.
Aku takut dengan orang-orang yang berteman dengan maksud tujuan tertentu.

Bisakah kita berteman secara gamblang? Jika tidak suka denganku, silahkan katakan ke aku langsung..

Minggu, 13 Agustus 2017

Selamat Tinggal dan Selamat Datang

Untuknya yang muncul dan hilang
Untuknya yang datang dan pergi
Untuknya yang hadir dan tenggelam
Melihatmu kembali merupakan anugerah

Malam ini
Ku baca ulang berbagai percakapan
Dari yang masih ada hingga yang seharusnya sudah tiada
Saat pamit dan kembali

Kembali kubayangkan kebahagiaanku
Ketika muncul sebuah pesan
Setelah penantian
02.10.2014.11.35
20.02.2016.07.09
2 tahun bersama puisiku

Gila. Kok bisa ya?

Kehilangan membuatku harus ingat dengan syukur
Bahwa saat ini tidak hilang seperti dulu
Manusia memang selalu menginginkan yang tidak dimiliki
Raga ini pun menyelam lewat cermin

Di saat syukur dimulai
Di saat itu pula perasaan bermain dengan lihai
Di saat syukur dimulai
Di saat itu pula keadaan berperai
Di saat itu, aku harus memulai syukur

VH.