Kamis, 27 Januari 2022

Lihat Aku

Buat apa kita bersama kalau kamu fokus pada dunia lainnya? 
Buat apa ada di depan mata kalau kita tidak saling bicara?
Duniamu siapa? 
Kamu ingin berbicara dengan siapa? 

Aku yang di hadapanmu 
Atau
Temanmu yang entah ada belahan bumi sebelah mana? 

Siapa? 

Lalu, kau hargai apa kehadiranku? 

30 Januari 2021

Sabtu, 01 Januari 2022

New Year 2022

Ada syukur yang aku rasakan dari pergantian tahun di malam hari ini. Syukurku tidak jauh dari aku memiliki pertemanan yang baik untuk waktu yang terbilang cukup lama. Pertemanan yang dimulai sejak aku menginjak bangku Sekolah Menengah Pertama di kelas 2. Ketika saat itu usiaku sekitar 13 tahun. 

Hingga hari ini, 31 Desember 2021 aku masih bisa berkumpul bersama mereka, lengkap berjumlah 5 orang. Syukurku melihat mereka sehat dan bahagia, walau tetap ada masalah-masalah kehidupan di dalamnya. 

Ada rasa sedih juga yang terselip dalam hatiku. Kehadiran teman-temanku hari ini bersama pasangannya masing-masing. Meskipun kecil kesedihan dan keresahan yang aku rasakan, tapi ketika tersentil dengan pertanyaan-pertanyaan rasanya sensitif sekali. 

"Emang pacarnya kemana?" tanya Bang J, salah seorang lelaki, pacarnya temanku. 
"Ada..." hanya itu jawaban yang keluar dari mulutku, sambil berusaha memikirkan jawaban selanjutnya agar pacarku tidak terkesan buruk. 
"Sama keluarganya?" tanyanya lagi. 
"Enggak... sama temen rumahnya," tenggorokanku rasanya tercekat dengan jawabanku sendiri dan realita yang nyata ini. 
"Sama temennya?! Kalau sama keluarganya mah wajar," jawab Bang J. 
"Hehehe," jawabku, sudah kelu. 
"Ini moment bukan sih buat kamu?" tanyanya lagi. 
"Hehehe," aku sudah tidak tahu mau menjawab apa lagi, tidak punya kata-kata. 
"Dia udah janji duluan sama temen rumahnya," jawabku setelahnya. 

Hatiku sudah tidak karuan rasanya. Serentetan pertanyaan yang memaksa akalku untuk berpikir. Berharap jawabanku bisa menyelamatkan pandangan orang terhadap pasanganku, namun tidak bisa. Jawaban penyelamatan itu juga sekaligus aku harapkan bisa untuk menenangkan hatiku, namun memang tidak bisa. Realitanya memang pahit. 

Aku harap kamu bisa bahagia berkumpul bersama teman-temanmu. Karena aku sudah sangat cukup berusaha memberikan kamu ruang untuk berbahagia. Semoga kamu bisa mendapatkan segala kebutuhan yang kamu butuhkan; kasih sayangku, canda tawa dari teman-temanmu, perhatian keluargamu, dan kesehatan dari Tuhan. Dan semoga kamu tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan. 

MN.