Jumat, 30 Juni 2017

A Gift from Adik Asuh

Bimbing Saya
Ditulis oleh : A. I. F.

Hallo kak Ifa, nama saya Andhika
Saya anak yang rusuh, maka dari itu saya butuh kakak asuh

Bimbing saya supaya menjadi Itachi Uchiha,
agar saya bisa menjadi pahlawan untuk keluarga dan sahabat saya.
Bimbing saya supaya menjadi Kisame Hoshigaki,
agar saya menjadi pribadi yang loyal dalam berorganisasi.
Bimbing saya supaya menjadi Pein,
agar saya bisa menjadi pemimpin yang baik.
Bimbing saya supaya menjadi Konan,
agar saya bisa menjadi pribadi yang sopan dan menawan.
Bimbing saya supaya menjadi Deidara,
agar saya bisa menghasilkan karya seni dan menjadi percaya diri.
Bimbing saya supaya menjadi Sasori,
agar saya bisa menyayangi orangtua.
Bimbing saya supaya menjadi Hidan,
agar saya menjadi pribadi yang selalu ingat Tuhan.
Bimbing saya supaya menjadi Kakuzu,
agar saya bisa makmur dalam hal keuangan.
Bimbing saya supaya menjadi Zetsu,
agar saya senantiasa bisa membantu siapapun.

Bimbing saya supaya menjadi Orochimaru,
agar saya bisa ahli dalam bidang yang saya tekuni.
Bimbing saya supaya menjadi Kabuto Yakushi,
agar saya bisa tahu apa arti merelakan masa lalu.
Bimbing saya supaya menjadi Jirobou,
agar saya bisa menjadi pribadi yang kuat fisik.
Bimbing saya supaya menjadi Kidomaru,
agar saya bisa menjadi pribadi yang teliti.
Bimbing saya supaya menjadi Tayuya,
agar saya bisa memanfaatkan irama hidup
yang penuh dengan senang dan sedih.
Bimbing saya supaya menjadi Sakon Ukon,
agar selalu mengerti arti dari kerja sama.
Bimbing saya supaya menjadi Kimimaru,
agar saya bisa berbakti kepada dosenku.
Bimbing saya supaya menjadi Juugo,
agar saya bisa menahan rasa amarahku.
Bimbing saya supaya menjadi Suigetsu,
agar saya bisa menjadi pribadi yang santai.
Bimbing saya supaya menjadi Karin,
agar saya bisa menjadi pribadi yang intelektual.

Bimbing saya supaya menjadi Kankurou,
agar saya bisa mengendalikan apapun untuk dijadikan bermanfaat.
Bimbing saya supaya menjadi Temari,
agar saya bisa menjadi pribadi yang tegas.
Bimbing saya supaya menjadi Gaara,
agar saya bisa menjadi pribadi yang memimpin di masa muda saya.

Bimbing saya supaya menjadi Hashirama Senju,
agar saya bisa dihormati orang banyak.
Bimbing saya supaya menjadi Tobirama Senju,
agar saya bisa bijaksana dalam mengambil keputusan.
Bimbing saya supaya menjadi Hiruzen Sarutobi,
agar saya bisa menjadi profesor di kemudian hari.
Bimbing saya supaya menjadi Minato Namikaze,
agar saya bisa menjadi kuat dan setia dalam percintaan.
Bimbing saya supaya menjadi Tsunade,
agar saya senantiasa menjadi pribadi yang antimainstream.

Bimbing saya supaya menjadi Jiraiya,
agar saya senantiasa bisa menjadi humoris dan menghibur.
Bimbing saya supaya menjadi Guru Guy,
agar saya bisa selalu semangat dan menikmati masa muda.
Bimbing saya supaya menjadi Rock Lee,
agar saya bisa menjadi pribadi yang pantang menyerah.
Bimbing saya supaya menjadi Neji Hyuuga,
agar saya bisa berkorban untuk siapapun.
Bimbing saya supaya menjadi TenTen,
agar saya bisa lincah di setiap hari.
Bimbing saya supaya menjadi Kurenai Yuuhi,
agar saya bisa tulus mencintai siapapun.
Bimbing saya supaya menjadi Shino Aburame,
agar saya bisa menjadi pribadi yang cool dan tidak banyak bicara.
Bimbing saya supaya menjadi Kiba Inuzuka,
agar saya bisa menjadi pribadi yang tidak memandang remeh orang lain.
Bimbing saya supaya menjadi Hinata Hyuuga,
agar saya bisa terus berjuang dalam menghadapi hidup.
Bimbing saya supaya menjadi Asuma Sarutobi,
agar tekad api selalu tertanam di dalam jiwa saya.
Bimbing saya supaya menjadi Ino Yamanaka,
agar saya bisa menjadi pribadi yang memikat banyak orang.
Bimbing saya supaya menjadi Chouji Akimichi,
agar saya bisa loyal terhadap persahabatan.
Bimbing saya supaya menjadi Shikamaru Nara,
agar saya bisa cerdas, jenius, dan banyak akal.
Bimbing aku supaya menjadi Iruka Umino,
agar saya bisa menjadi sosok yang membawa ke jalan yang benar.

Bimbing saya supaya menjadi Kakashi Hatake,
agar saya bisa menjadi pribadi yang tidak akan pernah meninggalkan teman.
Bimbing saya supaya menjadi Sakura Haruno,
agar saya bisa menjadi perawat yang benar-benar berjiwa perawat.
Bimbing saya supaya menjadi Sasuke Uchiha,
agar saya menjadi berprestasi.
Dan terakhir,
Bimbing saya,
Supaya menjadi
NARUTO UZUMAKI.
SAYA INGIN MENJADI ORANG YANG BERGUNA
UNTUK
FAKULTAS **** *********** UNIVERSITAS *********.
__________________________________________________________________________________

__________________________________________________________________________________

Nama fakultas dan univ gue samarkan.

Ini adik asuh pertama gue dan kayanya terakhir. Awalnya gak terlalu serius-serius sampe ke kepribadian, malah lebih pengen ngasih bantuan dalam hal akademik, sampe saat udah berlangsung beberapa lama jadi banyak titipan dari yang lain "kak, adeknya dibimbing kak, katanya kan dia mau jadi ketua blablabla" "Fa, adek lu diarahin Fa" "Fa adik kamu dikasih tau" BUSET gue udah kaya emaknya. Jujur aja, susah kalau membentuk pribadi... Mungkin akan dicoba, tapi lumayan sulit kalau bukan dari anaknya yang mau dan emang dia terkadang minta dibimbing, tapi ni anak lebih sering minta ditemenin dan lebih sering gue dijadiin pendengar cerita-ceritanya.

Bismillah deh buat bimbing kepribadian...

Dua Orang Asing

"Mereka hanyalah dua orang asing yang tak saling mengenal. Kebetulan bertemu di suatu titik tempat, pada suatu titik waktu; masing-masing menggenggam ujung seutas benang merah." (Efendi, 2012)
Tokoh lelaki   : Saadi (kebahagiaanku) --> tapi akhirnya gak disebutin namanya, karena gak tau juga namanya siapa
Tokoh wanita : Shula (bercahaya)
                          Ibu Rini
Sumber : http://www.zianka.id/awalan-huruf/20/

Namaku Shula tapi aku biasa dipanggil Ula, aku seorang gadis dengan rambut ikal sepinggang, berwarna hitam, dan biasa dikuncir kuda; kulitku putih; tinggiku 158 cm; dan beratku 50 kg. Saat ini aku terduduk di sebuah rumah sakit daerah Jakarta Selatan menemani seorang wanita paruh baya-- ibuku. Hari ini ibu kontrol gipsum ke dokter karena bagian stiloid process of ulna-nya retak dan hari ini merupakan jadwal kontrolnya ibu karena sudah 7 hari sejak gipsum terpasang.

Sumber : http://kliksma.com/2015/07/pengertian-tulang-karpal.html

Rumah sakit ini terdiri atas satu lantai saja. Saat masuk akan disuguhi dengan mesin untuk mengambil nomor antrean. Seorang satpam mengambilkannya dan kuterima. Ibuku dapat nomor A0079 dan saat ini di layar antrean menunjukan nomor A0075. Alur pemeriksaan di rumah sakit ini memang melalui beberapa tahap, yaitu tahap 1 berupa administrasi atau pengumpulan berkas, tahap 2 merupakan tahap pemeriksaan tanda-tanda vital (tekanan darah dan berat badan), tahap 3 merupakan tahap pemeriksaan, tahap 4 berupa verifikasi berkas, dan tahap 5 atau terakhir berupa pengambilan obat.

Saat ini kita berada di tahap 1. A0059... Ibuku pun mengeluarkan berkas-berkasnya dari dalam tas. A0060... Ibuku berjalan menuju loket untuk menyerahkan berkas-berkas tersebut ke seorang wanita penjaga loket 1. Berkas yang berisi fotokopi KK, KTP, kartu BPJS, dan surat rujukan dari dokter sebelumnya. Berkas itu diserahkan dan ditukar dengan berkas lain setelah diproses. Ibuku membawa berkas dari loket untuk diserahkan ke tahap 2, yaitu pemeriksaan tanda-tanda vital. Ibuku menaruh di meja tahap 2. Seorang perawat lalu memanggil nama ibuku, lalu dilakukan tensi dan menimbang badan.

Tahap selanjutnya merupakan tahap pemeriksaan. Jam praktik dokter spesialis orthopedi dimulai dari habis maghrib atau kadang ngaret. Saat ini waktu menunjukkan pukul 16.00 WIB. "Salat dulu yuk," ajak Ibu. "Iya," aku menjawab sambil mengangguk. Lalu, kita salat Ashar dan setelah itu waktu menunggu kita habiskan di mushalla, Ibuku tidur dan pahaku dijadikan bantalnya. Aku hanya memain-mainkan handphoneku, membalas whatsapp adikku. Sesekali ku foto Ibu yang sedang tertidur dan kukirim ke adikku, fotonya aib.

Waktu telah menunjukan pukul 17.38 WIB. Adzan Maghrib 7 menit lagi akan berkumandang dan ibuku pun telah terbangun. Kami bersiap-siap menuju depan mushalla karena disitu ada ta'jil gratis. Adzan pun berkumandang dan kami semua membaca doa bersama-sama lalu berbuka. Setelah itu dilanjutkan dengan salat maghrib.

Usai salat maghrib, aku dan ibuku menuju ruang tunggu. 1 jam berlalu... Hingga, "IBU RINI!" teriak seorang perawat dari dalam ruang praktik dokter. Ibuku pun masuk ke dalam. Dokter menyambut dengan bermain handphone, lalu 2 menit kemudian setelah kuintip dia membuka instagram, handphonenya ditaruh. "Gimana Bu?" dokter itu melihat sambil mengambil lengan ibuku yang di gipsum. Ibuku menjawab dengan keluhan, "ribet Dok, dilepas sekarang bisa gak Dok?" sambil meringis. Tidak menggubris permintaan ibuku, dokter tersebut menyampaikan kepadaku bahwa saat akan di gipsum kemarin, ibuku rewel dan ketakutan. "14 hari lagi ya Bu," lanjutnya, "ini Bu, obatnya diambil di farmasi," sambil menyerahkan sehelai kertas resep untuk diserahkan ke tahap 5 dan beberapa helai berkas lainnya untuk diserahkan ke tahap 4.

Kami lalu keluar ruangan dan menyerahkan berkas ke tahap 4. Berkas tersebut diberikan ke staff verifikator untuk diperiksa kelengkapannya. Seorang pria menerima berkas yang ku serahkan dengan senyum. Aku tidak membalas senyumnya. Saat itu, aku sedang berada dalam mood yang buruk karena perlakuan dokter barusan. Bagaimana bisa pasien tidak disambut dengan senyum tapi malah disambut dengan main handphone? Paling tidak, walaupun tidak tersenyum, tidak usah main handphone jika tidak perlu. Aku ngedumel dalam hati.

Staff verifikator itu memeriksa lembar demi lembar. Lalu, dilingkari beberapa poin. "Iya, Ibu nanti kembali lagi ke sini tanggal 20 Juni 2017," katanya sambil melingkari poin tersebut. Aku melihatnya yang sedang menunduk dan aku merasa staff ini mirip dengan seseorang yang ku kenal. Dia mirip dirinya... Seseorang dari kota Apel.

Dia melingkari sambil tersenyum. Rambutnya basah. Kulitnya putih. Tingginya sekitar 170-175an cm. Apakah dia baru datang? Kelihatannya masih semangat melayani. Lalu, dia berkata "iya, sudah lengkap, selanjutnya obatnya dapat diambil disitu," sambil mengarahkan tangan ke ruang farmasi dan menutup dengan senyum. Aku ingin membalas senyumnya, namun ia telah melihat ke arah lain. Akhirnya, aku hanya mengangguk lalu menuju tahap 5, farmasi. Ibuku menaruh resepnya di kotak. Lalu, kita menunggu dipanggil.

Aku ingin membalas senyumnya... Tapi sudah terlambat. Kenapa tadi aku jutek banget? Gerutuku dalam hati. Aku duduk di bangku tunggu farmasi sambil terus melihat ke arahnya. Dia sibuk. Bibirku seakan memintaku untuk tersenyum hingga aku menggigit bibirku agar tidak senyum-senyum seenaknya. Sesekali dia melihat ke arahku, tapi aku membuang mukaku. Rasanya pipiku panas.

"IBU RINI" petugas farmasi memanggil nama ibuku. Kami berdiri dan mengambil obat yang diberikan. Lalu, pulang. Pertemuan hari ini hanya sampai disini.

__________________________________________________________________________________

14 hari telah berlalu. Hari ini jadwal ibuku buka gipsum. Aku kembali ke rumah sakit ini. Seperti biasa, aku dan ibuku disambut oleh satpam dan diberikan nomor antrean. A0089. Sepertinya hari ini ramai. Nomor di layar antrean masih menunjukan angka A0065. Masih jauh nomornya. Lalu, saat mataku langsung mencari dirimu di bagian verifikator. Hasilnya nihil. Staff yang bertugas disitu seorang wanita dan seorang pria, tapi bukan orang itu.

Jam telah menunjukan pukul 16.00 WIB dan karena nomor antreannya juga masih jauh, akhirnya ibuku memutuskan untuk salat ashar dahulu. Aku pun telah pasrah dengan usaha mataku untuk mencari dirinya. Aku mengikuti ibuku yang berjalan menuju mushalla.

Di mushalla ibu salat duluan lalu  setelah itu aku yang salat dan ibu gantian menjaga barang. Aku duduk sambil sesekali melihat handphone, entah apa yang kukerjakan dengan handphoneku. Lalu kutaruh, aku melamun. Lalu, seorang laki-laki masuk. Orang yang kucari itu masuk! Padahal aku sudah mengikhlaskannya.

Aku merasa retinaku melebar saat melihat dia. Dia masuk namun aku tidak bisa apa-apa. Dia mau wudhu, tapi dia mengobrol dahulu dengan beberapa orang temannya. Aku mendengarkan percakapannya, tapi aku tidak membalik badanku ataupun menoleh. Beberapa hal yang aku dengar, yaitu, "iya mudik, ke Sukabumi". Dapat ditarik kesimpulan, dia akan mudik dan mudiknya ke Sukabumi.

Kepalaku langsung terasa pusing. Sukabumi berarti dia orang Sunda. Sudah lelah, ibuku maunya orang Jawa. Belakangan ini aku terlalu lelah memikirkan kriteria permintaan ibu. Pusing. Hingga otaku memutuskan “ah orang cuma suka doang” dan aku rasa memang hanya seperti itu dan tidak akan sampai memiliki hubungan cinta.

Setelah wudhu, ia qamat. Di sebelahnya ada seorang lelaki, setelah qamat ia mempersilahkan lelaki itu untuk jadi imam. Namun, lelaki itu menolak dan menyuruh dia maju. Akhirnya, dia yang maju. Hal ini membuatku ingin tertawa disaat habis pusing.

Dia menjadi imam, suaranya lembut dan halus. Lalu, saat ibuku sudah selesai salatnya, dia masih menjadi imam. Aku berwudhu dan salat menjadi makmumnya. Setelah selesai salat, aku dan ibu langsung kembali ke ruang tunggu.

Nomor ibuku belum dipanggil. Saat ini masih A0080, syukurlah. A0081, A0082, A0083, ..., A0088. Aku dan ibuku mengeluarkan berkasnya. A0089. Ibuku menuju loket 1 untuk memberikan berkasnya. Lalu, seperti sebelumnya. Selanjutnya ibuku ke tahap 2, yaitu pemeriksaan tanda-tanda vital. Setelah beberapa orang, akhirnya ibuku dipanggil juga. Ibuku ditensi dan ditimbang. "Normal, 120/80," kata ibu sambil duduk di sampingku setelah diperiksa.

"La, tidur ke mushalla yuk," ibu mengajakku setelah beberapa saat duduk di ruang tunggu, "tangan Ibu pegel kalau kaya gini terus," sambil menunjukan tangannya yang menggantung, "pengennya kaya gini," menaruh tangannya di pahaku lurus dan tertopang. "Tapi kalau di pahamu gak enak, mama maunya sejajar, kalau disitu turun ke bawah, gak enak," lanjutnya. "Iya ayok," jawabku.

Mushalla masih lumayan ramai. Lalu kemudian sepi. Aku duduk meluruskan kaki dan ibu tidur di pahaku seperti sebelumnya. Aku lalu membaca novel yang kubawa hingga maghrib mau berkumandang. Ibuku lalu bangun.

Kami keluar mushalla dan buka menggunakan ta'jil dari rumah sakit. Setelah itu siap-siap salat maghrib, ibuku dulu yang wudhu lalu aku. Kali ini kita salatnya bareng dan barang ditaruh di depan ibuku. Dan lihat, siapa yang masuk? Lelaki itu.

Lelaki itu berwudhu dan kembali menjadi imam. Aku menjadi jamaahnya lagi. Karena salat maghrib merupakan salat yang dilakukan di malam hari. Jadi, surah-surahnya harus dibaca. Subhanallah :). Hatiku meleleh. Dia memang tidak menggunakan nada-nada, tetapi bacaannya terdengar lembut di telinga dan di hati. Aih. "Maka, nikmat Tuhan yang mana lagi yang kamu dustakan?" batinku.

Setelah salat, Ula dan ibu kembali ke ruang tunggu. Saat ini kita menunggu tahap 3, yaitu pemeriksaan dokter. Baterai handphoneku lemah dan aku mencari tempat duduk yang dekat dengan stop kontak. Setengah jam berlalu... Ibu masih duduk di sebelahku sambil mengobrol tentang apapun itu. Lalu, lelaki itu berjalan ke depan, ke bagian loket dan ruang verifikator. Lalu, kembali lagi.

Bateraiku sudah lumayan penuh, akhirnya aku dan ibuku pindah tempat duduk ke yang lebih dekat dengan ruang dokter agar saat dipanggil terdengar. Di tempat duduk ini terlihat langsung loket-loket dan ruang verifikasi. Lelaki itu kembali lagi ke depan. Lalu balik ke belakang. Saat ini, arahnya ke arahku dan aku duduk ke arahnya, karena memang jalannya seperti itu. Aku melihatnya dan tersenyum. Dia balas tersenyum. Aku ingin melanjutkan senyumku, tapi ibuku yang sedang berbicara di sebelahku tiba-tiba berhenti dan sepertinya mengerutkan dahi melihatku lalu melihat lelaki itu. Argh. Terpaksa aku membuang mukaku ke arah lain. Lalu, aku menjawab obrolan ibuku.

Sekitar pukul 21.00, lelaki itu kembali lagi ke depan. Aku melihat punggungnya berjalan ke arah loket. Lalu, dia kembali lagi ke belakang. Aku tidak berani melihatnya lagi seperti tadi karena... disebelahku ada ibu. Aku hanya menunduk, melihat sepatumu. Warnanya hitam sepatunya. Kamu berjalan balik sambil memegang handphone. Lalu aku menegakan mukaku saat kamu sudah lewat. Sungguh, rasanya sangat tidak enak. Ini namanya benar-benar menahan pandangan. Tapi bukan karena kesadaran iman, tapi kesadaran ada ibu.

Sekitar jam 22.30 ibu dipanggil. "IBU RINI!" panggil perawat yang sama seperti saat kontrol. Ibu dan aku pun masuk. Sama seperti sebelumnya, dokter menyambut kami dengan bermain handphone. Hormatku pun hilang seluruhnya, sungguh, tidak ada wibawanya orang ini di depanku. Lalu, handphonenya ditaruh.

Ibuku mulai dibuka gipsumnya. Tangan ibuku gemetar saat gipsum sudah terlepas seluruhnya. Seperti tangan yang tidak hidup atau bisa dibilang seperti tangan yang habis lumpuh (?) Intinya bergetar dan ibuku merasa nyeri karena punggung telapak tangannya masih bengkak. Setelah beberapa saat aku baru tersadar, bergetarnya tangan ibuku karena aliran darah kembali lancar. Saat di gipsum tentu tangan akan terasa terhimpit dan darah tidak bisa mengalir seperti biasanya. Sehingga menyebabkan pembengkakan juga di telapak.

Dokter mengatakan, "gapapa, lalu memencet-mencet tangan ibu tanpa belas kasih padahal ibuku berteriak sakit". Saat itu aku merasa jadi tambah panas rasanya, tapi, saat menulis ini aku sudah mendengar kabar baik dari ibuku, katanya, "setelah dipencet juga sakitnya ilang dan jadi agak kempesan bengkaknya". Saat di farmasi ibuku mengatakan ini, jadi aku tidak akan melampiaskan emosiku di paragraf ini.

Selanjutnya, ibuku dirujuk ke fisioterapi. Jadi, ini bukan hari terakhir ke rumah sakit ini. Karena hari sudah terlalu larut. Jadi aku dan ibu tidak ke tahap 4, melainkan langsung ke tahap 5. Sepertinya dia sudah pulang karena saat aku melihat ruang verifikator sudah kosong dan bertuliskan tutup. Sepertinya dia bekerja dari pukul 06.00-21.00 WIB. Sekarang sudah pukul 23.00 WIB disini. Lalu, aku dan ibu ke tahap 5, menaruh resep ke kotak dan menunggu dipanggil. Setelah beberapa menit, akhirnya dipanggil dan kami pun pulang.

Terasa seperti pertemuan terakhir, tapi hari ini membahagiakan. Senang bisa memberimu senyum, dan senang bisa mendapat senyum darimu. :)

_________________________________________________________________________________

Selama fisioterapi aku sudah tidak pernah bertemu dengan lelaki itu lagi. Sepertinya masih di kampung. Sepertinya tidak akan ketemu lagi.

_________________________________________________________________________________

P.S. : Ada momen dimana ada tarik-menarik yang tidak nyata. Tapi, yaudah nikmati saja saat itu dan saat-saat bahagianya. Kepikiran pasti, tapi coba buat mengikhlaskan momen-momen seperti itu lebih baik daripada dipikirkan dan diharapkan terus-menerus.

Pada akhirnya, kita hanyalah dua orang asing.
__________________________________________________________________________________

Sebentar lagi ada yang komen "kamu gampang banget suka sama orang". Udah tau komentarnya mas.

June 30th, 2017

Lelaki Itu

Aku melihatnya namun aku tidak sadar
Hingga otak dan batinku sadar
Bahwa sosok lelaki di depanku ini
Mirip dengan seseorang yang aku kenal
Yang berada jauh di kota Apel

Dia melayani dengan senyum
Aku mengabaikan senyumnya
Hingga otak dan batinku sadar
Aku ingin membalas namun sudah terlambat

Aku pindah ke tempat berikutnya
Hanya bisa melihat dirimu
Ingin kutersenyum
Namun,
Saat kamu melihat ke arahku
Aku jadi salah tingkah
Pandanganku langsung ke arah lain

Waktuku disitu sudah habis
Aku harus pulang

Hingga saat ku kembali lagi kesitu
Aku tidak menjumpaimu di tempat saat itu
“Yasudah” pikirku
Namun takdir sedang berada di pihakku, mungkin..
Kita bertemu di mushalla
Saat ashar dan maghrib

Ashar
Kamu qamat dan berharap lelaki lain menjadi imam
Namun,
Malah kamu juga yang disuruh jadi imam
Rasanya aku ingin tertawa

Aku mendengar bacaanmu
Aku mencuri pandang melihatmu
Subhanallah :)
Ah iya, saat itu aku tidak sedang salat
Jadi jangan berpikir aku makmuman sambil lirik-lirik

Maghrib
Aku mendengarmu mengobrol di belakangku
Namun aku tidak mau membalik badanku
Hanya menguping sepatah dua patah kata
Kata “akan mudik” dan “Sukabumi”

Seperti saat ashar
Kamu yang jadi imam
Aku menyukai caramu membaca surah-surah
Walaupun tanpa nada-nada tetapi terdengar lembut dan halus

Usai salat,
Pikiranku langsung pusing
“Sukabumi” --> orang Sunda
Ibuku sukanya orang Jawa
Pusing
Hingga otakku memutuskan “ah orang cuma suka doang”

Aku menunggu antrean di ruang tunggu
Sepertinya hari ini kamu bertugas di dalam
Makanya aku tidak melihat di tempat kemarin
Sekitar dua atau tiga kali kamu ke depan
Aku mengamati sesekali

Hingga di kali ke dua aku sudah pindah tempat duduk
Kamu sedang berjalan kembali ke dalam
Kita bertukar senyum!!!!! SHIT MAN
Rasanya ingin tetap senyum
Hingga aku sadar ibuku di sampingku sedang curiga saat melihatku
Terpaksa aku buang mukaku dan kutundukan pandanganku

Saat kali ketiga kamu kembali
Aku hanya menatap sepatumu…:(
Aku merasa kamu membawa hpmu juga disaat ketiga
Dan hanya tiga kali kamu ke depan
Sepertinya kali ketiga itu kamu akan pulang

Beberapa hari kemudian saat aku kembali ke situ
Tempat itu sudah sepi
Sepertinya beberapa staffnya sudah pada libur

Dan hari ini sudah ke empat kalinya aku kembali sejak saat itu
Namun tetap tidak bertemu

Andai…
Gak usah berandai2 deh.

June 30, 2017

Senin, 26 Juni 2017

Aku Merasakannya

Lembayung senja di sore hari
Menuju malam yang gelap
Sebuah rasa merasa sangsi
Sebongkah hati menemui pelengkap

Ada butuh yang tidak dapat disampaikan
Hal yang ingin didapatkan
Jika membeli emas butuh pengorbanan
Memilih antara iya dan tidak pun butuh pemikiran

Mau tapi bukan tentang rasa
Merasa tidak ingin menyakiti
Tapi butuh,
Seseorang.

Minggu, 25 Juni 2017

Refleksi Diri

Hari kemenangan telah tiba, lebaran tahun ini rasanya benar-benar menang. Lalu, rasanya ingin merefleksi diri sendiri.

Hal buruk apa saja yang udah aku lakukan dari Ramadhan sebelumnya hingga bertemu Ramadhan tahun ini.

- menyakiti hati orang
- ibadah Ramadhan menurun drastis
- tarawih hanya di minggu awal saja, selanjutnya 0
- merasa beban dengan puasa padahal jarang-jarang dikasih nikmat sakit
- berbohong
- menyontek dan kerjasama
- melawan orang tua
- malas kerja (demotivasi)
- ngeluh melulu

Di lain hal, ada banyak hal yang harus saya syukuri. Atas berkah dari Allah SWT yang tiada habisnya.

- utang puasa hanya 7 hari (tahun kemarin 15 hari, setengah bulan sendiri :'D)
- dimudahkan dalam hal rezeki
- dipertemukan dengan Idul Fitri 1438 H
- banyak sekali, nikmat yang tidak bisa kusebutkan satu per satu

Semoga untuk tahun berikutnya lebih baik dari tahun ini.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428 H!
Minal Aidin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin..

Jumat, 23 Juni 2017

Inside Out - The Chainsmokers

Bend your chest open so I can reach your heart
Buka dadamu sehingga aku bisa meraih hatimu
I need to get inside, or I'll start a war
Aku butuh masuk ke dalam atau aku akan memulai perang
Wanna look at the pieces that make you who you are
Ingin melihat bagian yang membentuk siapa dirimu
I wanna build you up and pick you apart
Aku akan membangun kamu dan mengambil serpihanmu

Let me see the dark sides as well as the bright
Biarkan aku melihat sisi gelap sebaik sisi terang
I'm gonna love you inside out
Aku akan mencintaimu luar dan dalam
I'm gonna love you inside out
Aku akan mencintaimu luar dan dalam

Let me see the dark sides as well as the bright
Biarkan aku melihat sisi gelap sebaik sisi terang
I'm gonna love you inside out
Aku akan mencintaimu luar dan dalam
I'm gonna love you inside out
Aku akan mencintaimu luar dan dalam

I'm gonna love you
Aku akan mencintaimu
I'm gonna love you
Aku akan mencintaimu
I'm gonna love you
Aku akan mencintaimu

I'm gonna pick your brain and get to know your thoughts
Aku akan mengambil otakmu dan mencari tahu pikiranmu
So I can read your mind when you don't wanna talk
Jadi aku bisa membaca pikiranmu ketika kamu tidak ingin berbicara
And can I touch your face before you go?
Dan bisakah aku menyentuh wajahmu sebelum kamu pergi?
I collect your scales but you don't have to know
Aku mengumpulkan timbanganmu tapi tidak perlu tahu

Let me see the dark sides as well as the bright
Biarkan aku melihat sisi gelap sebaik sisi terang
I'm gonna love you inside out
Aku akan mencintaimu luar dan dalam
I'm gonna love you inside out
Aku akan mencintaimu luar dan dalam

Let me…
Biarkan aku...
Let me see the dark sides as well as the bright
Biarkan aku melihat sisi gelap sebaik sisi terang
I'm gonna love you inside out
Aku akan mencintaimu luar dan dalam
I'm gonna love you inside out
Aku akan mencintaimu luar dan dalam

Let me see the dark sides as well as the bright
Biarkan aku melihat sisi gelap sebaik sisi terang
I'm gonna love you inside out
Aku akan mencintaimu luar dan dalam
I'm gonna love you inside out
Aku akan mencintaimu luar dan dalam

I'm gonna love you
Aku akan mencintaimu
I'm gonna love you
Aku akan mencintaimu
I'm gonna love you inside out
Aku akan mencintaimu luar dan dalam
(Your love, inside out)
(Cintamu, luar dalam)

I'm gonna love you inside out
Aku akan mencintaimu luar dan dalam
I'm gonna love you inside out
Aku akan mencintaimu luar dan dalam
Inside out
Luar dalam
(Your love, inside out)
(Cintamu, luar dalam)

Let me see the dark sides as well as the bright
Biarkan aku melihat sisi gelap sebaik sisi terang
I'm gonna love you inside out
Aku akan mencintaimu luar dan dalam
I'm gonna love you inside out
Aku akan mencintaimu luar dan dalam

Penulis lagu: Andrew Taggart / Charlee Nyman
Lirik Inside Out © Sony/ATV Music Publishing LLC
Retrieved from google.

Kamis, 15 Juni 2017

Aku Ingin Bertanya

Teringat saat kali pertama kamu muncul kembali
Dalam sebuah pesan
Ingatan yang membuatku senyum-senyum sendiri saat ini
Menjelajahi sejarah obrolan

Aku ingin bertanya padamu,
pernahkah kamu merasa tidak nyaman dengan seseorang?
pernahkah kamu merasa tidak ingin pergi dengan seseorang?
pernahkah kamu ingin mengatakan tidak tapi tidak enak?
pernahkah kamu menolak?

Kenapa menolak sangat sulit untukku
pernahkah kamu membatalkan suatu rencana?
Aku ingin melakukan itu...

Sebenarnya apa kadar kedekatan itu?
Seminggu chat terus apakah itu dapat dikatakan dekat?
Merasa tidak jujur dengan diri sendiri apakah itu bisa dikatakan dekat?

Aku ingin membatalkan suatu rencana, karena hanya ada rasa tidak nyaman.
Namun, bagaimana aku harus mengatakannya?

KN.

Jumat, 09 Juni 2017

Terima kasih

Ya Allah, terima kasih atas rezeki-rezeki sederhana yang membuat hatiku berseri-seri.
Aku mencintai tempat kerjaku. Sebuah ruko sederhana dengan orang-orang pendidik diriku.
Aku senang dengan momen Ramadhan ini. Aku senang dengan bingkisan-bingkisan dalam tas tenteng, bukan masalah harga dan isinya. Tapi masalah momen dan niatnya.
Hal-hal seperti ini, seperti de javu. Hal yang pernah terjadi di masa lalu. Bedanya, generasinya. Dulu, Bapak yang membawa pulang kerdus-kerdus berisi sembako dan semacamnya. Sekarang, aku.
Aku senang bekerja di tempat yang masih memperdulikan masalah pemberian sembako dan semacamnya saat menyambut hari Raya, karena tidak semua tempat memikirkan hal seperti ini. Bahkan, banyak yang tak acuh.

Terima kasih ya Allah.. o:)

Selasa, 06 Juni 2017

Cerita Hari Ini

Jangan bermain mata
Melihatnya dalam satu garis lurus
Dibalik pandang
Muka dipalingkan

Aku melihat seseorang di dirinya
Saat tertunduk, menulis
Aku melihat dia di dirinya
Saat menatap, berbicara

Ini semua hanya delusi
Menyebabkan ilusi
Hingga membuat efek halusinasi
Mempermainkan sebuah hati
Untuk membuat sebuah aksi
Jika tidak, itu hanyalah mimpi

Berhenti bermain mata
atau
Masa lalu akan terulang, lagi dan lagi
Mataku terlalu bahaya.

Ah, siapa suruh ada kutub lawan di tempat ini.