Senin, 02 Maret 2015

Sepotong Cinta di Rumah Sakit

Malam tahun baru kali ini terasa berbeda bagiku. Bagaimana tidak? Mamaku harus dioperasi, dan mulai diopname pada tanggal 31 Desember 2012. Aku harus membatalkan semua rencana malam tahun baruku bersama teman-teman. Bukan hal yang memberatkan memang, karena aku ikhlas membatalkannya demi merawat mama. 

Day 1
Aku mulai membalas ajakan-ajakan teman-temanku di bbm. "Rik, darahnya sudah mau habis, tolong ambilin lagi di lab!" Akupun langsung menaruh hpku di meja kecil sebelah tempat tidur mama. Ini kantung darah kedua yang aku ambil untuk transfusi. Kebetulan ketika di cek hb darah mama sangat rendah, sedangkan untuk operasi hb minimal harus 10, jadi harus ditransfusi dulu sekitar 3-4 kantung darah bergolongan sama.

Disiang hari, papa sudah sibuk mengurus permintaan darah ke pmi, karena ternyata stock darah golongan AB di lab rumah sakit ini tinggal 1 kantung. Jadi papa harus mencari ke pmi. Setelah urusan-urusan tersebut selesai, papa pulang dengan adikku. Tinggalah aku disini untuk merawat mama. 

Sampai depan lab, aku menaruh kertas permintaan kantung darah yang diberikan suster di dalam sebuah keranjang kecil depan kaca. Aku duduk di tempat tunggu sebelah lab. "Ibu Ros?" "Iya," nama ibuku dipanggil dari lab, aku pun berdiri dan mengambil darah yang diberikan.

Dalam perjalananku kembali dari lab menuju ruangan mama. Entah mengapa rasa random tiba-tiba menghampiriku. Aku kangen seseorang yang ingin aku lupakan. Seseorang dari masa lalu. Dan entah mengapa aku butuh teman mengobrol disini.

Darah yang kubawa pun aku berikan kepada suster yang bertugas petang ini untuk diurus. Aku masuk ke ruangan mama dan duduk disamping mama, "darahnya udah aku ambil ma, udah aku kasih ke susternya."

Tidak lama, setelah aku memberikan kantung darahnya ke suster, darah di kantung darah yang sedang ditransfusikan ke mama sudah benar-benar habis. Suster pun menggantinya dengan yang baru, aku memperhatikan suster mengganti kantung darah mama. Entah, aku memiliki ketertarikan sendiri dengan rumah sakit. Ketika banyak orang yang mengatakan rumah sakit itu seram dan sebagainya aku malah tidak pernah berfikir begitu. Aku ingin bekerja di rumah sakit, aku ingin jadi dokter. "Hb mama kamu sudah lumayan naik, nanti kalau darahnya sudah habis kamu bilang ya ke saya." "Iya kak, terima kasih kakak suster," aku tersadar dari lamunanku dan membalas ucapan suster. Suster bernama Riani itu pun membalas senyumku lalu keluar, ketempat jaganya. Sepertinya malam ini suster tersebut yang berjaga. 

Day 2
Pukul 00:00. Aku masih terjaga, aku mengambil ponselku dan melihat recent updates bbm, tulisan "Happy New Year 2013" memenuhi recent updates. Akupun juga mengganti personal message bbm ku menjadi "happy new year 2013". Lalu aku izin keluar sebentar karena ingin melihat kembang api pergantian tahun diluar sebentar.

Mama mengizinkan dan aku pun berjalan keluar rumah sakit. Aku tetap di sekitar rumah sakit, di halaman depan rumah sakit lebih tepatnya. Bunga api mencuat menuju langit, meledak menjadi serpihan berwarna-warni. Mataku berbinar-binar melihatnya. Iya, aku memang penyuka kembang api, penyuka malam hari dan pembenci hujan. "Selamat pagi, Jakarta. Selamat datang 2015." Aku membalik badan dan brakk! Aku tidak tahu kalau ada orang di belakangku. "Aduhh.." aku mengusap-usap badanku yang mencium aspal depan rumah sakit. "Maaf maaf, ada yang luka?" seorang perawat laki-laki ternyata, dia menanyakan keadaanku. "Gak ada kok." Dia pun berdiri dan mendirikan aku. Refleks aku mendongakan kepalaku dan melihatnya. Bola mataku dan bola matanya bertemu untuk seper sekian menit. Mataku menjelajah matanya, seolah ada sesuatu yang terlihat familier. "Ehm.." aku tersadar kalau tangannya masih memegang kedua lenganku saat membantuku berdiri. "Makasih ya kak," aku tersenyum dan kembali menuju kamar mama.

Pukul 06:00. Aku bangun, untuk apalagi kalau bukan untuk mengurus mama? Mama sudah terjaga ternyata. Aku lekas bangun dan menuju kamar mandi. Kamar mandinya berada di luar kamar, di depannya lebih tepatnya. Kamar ini sendiri terdiri dari 6 tempat tidur yang tersusun tiga-tiga. Setiap tempat tidur bisa ditutup dengam gordyn. Tapi saat ini karena kamar ini hanya di isi oleh mama jadi tidak ditutup. Terdapat 2 pintu di kamar ini. Yang satu mengarah ke balkon atau koridor yang menghap ke ruang rawat inap penyakit jantung dan yang satunya lagi menghadap kamar mandi yang diselingi dengan jalan menuju kamar-kamar lain.

Aku keluar dari ruangan mama dan melihat meja perawat. Langkahku terhenti. Seseorang di meja perawat tersenyum padaku. Aku membalasnya dengan canggung, lalu aku melanjutkan langkahku menuju kamar mandi. Selesai mandi, entah kenapa seperti ada yang memaksaku untuk menengokan kepala untuk melihat meka perawat, bola mataku ingin melihatmu lagi. Aku pun menengok, dan meja perawat tersebut kosong. Sedikit pupus.

Aku masuk ke ruang rawat mama. Mama sedang diperiksa oleh dokter. Hari ini, mama akan dioperasi. Nanti, jam 12 siang lebih tepatnya. Aku melihat mama diperiksa.

Pukul 12:00. Aku berdoa untuk keselamatan mama hingga selesai operasi, aku berdoa agar Tuhan YME memberikan yang terbaik. Setelah sekitar 2jaman aku, papa, dan adikku menunggu. Akhirnya selesai juga operasi mama dengan selamat, Alhamdulillah.
Aku bersama papa dan adik kembali ke ruangan rawat inap mama.

Pukul 15:00. Papa paling tidak betah berlama-lama di rumah sakit, akhirnya papa dan adikku pun pulang dengan membawa beberapa kresek pakaian kotor untuk dicuci.

Hari mulai malam, adzan maghrib mulai berkumandang. Aku keluar menuju mushalla. Betapa kagetnya aku, kamu ada di dalam mushalla juga. Setelah shalat, kamu datang menemuiku. Mengajak kenalan dan mengobrol. Yudi, kau bilang namamu itu. Aku mulai mengenalmu. Kita mulai berbicara banyak. Entah kenapa, aku langsung nyambung mengibrol denganmu. Kamu mengeluarkan jokes-jokes yang tidak membuat obrolan jadi "krik".

Aku kembali ke ruangan mama dengan tersenyum. Entah, kalau aku melihat pipiku sendiri dikaca mungkin sudah berwarna merah. Aku menyuapi mama makanan yang sudah diberikan rumah sakit. Setelah mama selesai makan, tidak lupa aku membantu mama untuk meminum obatnya. Beberapa selang infus agak mengganggu. Sekarang, infus mama sudah bukan darah lagi melainkan sudah beruba cairan bening seperti air putih. Setelah minum obat, aku menidurkan mama lagi.

"Kluruk kluruk" perutku bermain drumband. Tanpa aku sadari ternyata aku belum makan dari pagi. Mama mendengar suara perutku dan menyuruhku untuk makan. Aku pun izin keluar untuk membeli makan. Aku memencet tombol lift dan menunggunya hingga terbuka. "Kamu mau nyari makan ya?" tiba-tiba Yudi di belakangku. "Iya nih kak," aku memanggilnya kak karena ternyata dia adalah mahasiswa yang sedang Praktik Kerja Lapangan atau biasa disebut dengan PKL. "Bareng aja yuk? Biar ga bete makan sendiri." "Boleh." Lift pun terbukadan kita berdua masuk. Klik... Tanganku dan tangannya memencet tombol lantai Ground bersamaan. Darahku terasa tak karuan. Jantungku seperti sedang dipacu. Aku cepat-cepat menarik tanganku. "Maaf."

Kita memilih makanan yang sudah mainstream, nasi goreng. Setelah sekitar 5 menitan menunggu. Makanan pun datang dan aku menyantapnya seperti anak ayam yang tidak diberi makan setahun. "Hahahaha" loh kok kamu malah tertawa? "Pelan-pelan dong makannya," ucapmu sambil meneruskan tawamu. Aku menjawab seadanya dan meneruskan ritual makanku.

Day 3
Aku terbangun, dan seperti biasa, aku pergi mandi. Aku menengok ke meja perawat, kamu tidak ada. Sepertinya hari ini bukan shiftmu. Seharian aku bosan.

Day 4
Kesiangan. Sudah pukul 8 pagi. Aku langsung terduduk jetika bangun dan kamu sedang mengecek selang infus mama. Aku menunduk dan tersenyum. Lalu aku cepat-cepat mandi. Setelah itu aku duduk di samping tempat tidur mama. Memperhatikan kamu yang sedang mengurusi alat-alat yang digunakan mama. Diam-diam kamu mencuri pandang tanpa sepengetahuan mama. Aku tersenyum saat itu. Rasanya aku ingin tertawa di sampingmu. Agak random memang, tapi memang itu yang aku rasakan.

Day 7
Mama sudah diizinkan pulang. "Kak, bisa tolong anterin gak sampai depan?" aku tidak bisa mendorong kursi roda sendirian, jadi aku minta tolong ke meja suster. "Sama dia aja dek, salah seorang suster menjawab dengan nada agak meledek." Aku tersenyum malu. Kak Yudi pun berdiri untuk mengambil kursi rodanya, aku membuntutinya dari belakang. "Boleh minta nomer hp kamu gak?" tiba-tiba dia menatapku. Entah, kita terkadang tidak terlalu banyak berbicara, lebih banyak menatap tapi seakan mata kita berbicara, mengeluarkan kata-kata. "Hah? Buat apa?" jujur saja, ini hanya alasan klasik untuk jawaban yang aslinya "duh kasih gak ya? Bingung nih." Kita pun tidak melanjutkan omongan itu dan ke kamar mama untuk dinaikan ke kursi roda.

Kak Yudi mendorongnya dengan santai. Melewati ruangan-ruangan rawat inap lainnya dan sebuah taman kecil menuju halaman rumah sakit yang setelah poli-poli klinik. Sepanjang jalan, aku memikirkan permintaanmu. Sampai pada akhirnya, aku tidak memberikan nomor hpku. Aku melihatmu dari kaca jendela mobil, kamu mendorong kursi roda tersebut masuk ke rumah sakit. Entah, sebuah penyesalan muncul di dalam benakku. Ya, mungkin ini adalah perpisahan kita, mungkin perkenalan kita hanya sampai disini. Terima kasih telah mengisi hariku di rumah sakit. Aku jatuh cinta, kak Yudi.

*PS : Jangan menyia-nyiakan kesempatan, gunakanlah kesempatan tersebut sebaik mungkin sebelum kamu menyesal di kemudian hari.

Thanks for reading.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar