Selasa, 23 Januari 2018

Gempa.

Hari ini, 23 Januari 2018. Hari ini Alhamdulillah gue punya kegiatan, yaitu ke kampus buat organisasi. Alhamdulillah ada organisasi jadi gue gak nangis-nangis sama meratapi nasib doang kerjaannya. Agenda hari ini itu ada sidang Anggaran Dasar/ Anggaran Rumah Tangga organisasi gue sama presentasi grand design untuk masa kerja setahun ke depan. 

Jadi, tadi itu udah masuk sesi ke dua, yaitu presentasi grand design program kerja. Gue duduk paling belakang, sesungguhnya gue males 3 tahun di organisasi yang sama dan dengerin presentasi proker yang hampir semuanya sama. Jadi, gue milih duduk di belakang dan buka-buka timeline suatu aplikasi HE HE. Presentan pertama itu ketua komisi I, yaitu sebut saja A. Lalu, dilanjutkan ketua komisi II, sebut saja C. A sudah selesai presentasi dan ikut-ikutan duduk di belakang sebelah gue.

Tiba-tiba gue ngeliat lantai kaya wave gitu. Ini rasanya kaya lagi kena ombak pantai gitu, kaya gelombang ke atas-bawah bukan geter-geter shake ke kanan-kiri. Gue bingung, gue nengok ke A. A nengok ke gue. Kita saling mikir. Nggak deng, gue gak mikir. Gue cuma bingung doang. Terus A bilang, "gempa!" Gue langsung berdiri. Kata A, "berlindung ke bawah meja!" Gue, A, dan adik asuh gue berlindung ke bawah meja, sedangkan yang lainnya lari ke luar. Di bawah meja gue jongkok sambil mikir dan ngebatin dalem hati, "lah anjir ini gue di bawah meja kalau lantainya nanti ambles ke bawah gimana?" gue bener-bener mikir gini karena kebetulan student centernya ada di lantai 4. Gue lagi di lantai 4.

Akhirnya gue keluar dari kolong meja dan ikutan lari ke luar. Di luar student center anak fakultas lain juga pada ngumpul di situ, selasar lantai 4 jadi rame banget. Gue ngeliat muka-muka yang lain, mukanya pada ketakutan banget. Salah satu staff gue bilang, "kakak aku takut banget! Aku sampe gemeteran," dengan muka yang cemas, pengen nangis, dan terlihat gemeter. Gue juga takut banget disini. Gue megangin dada terus, sumpah segitu deg-degannya gue tadi. Mungkin juga gue tadi takut banget karena ini pertama kalinya ngerasain gempa. Selama ini, kalau lagi gempa, gue selalu lagi tidur jadi gak pernah kerasa hehehehe. Gempa lainnya yang infonya ada di grup-grup gue yang lain itu terjadinya di Depok dan gue selalu lagi di Jakarta, jadi gak ngerasain juga hehehehe. Alhamdulillah. Tapi gempa yang tadi beda, dari grup Jakarta sampe Depok semua langsung ngomongin gempa. Berarti, gempanya dari Jakarta sampe Depok. Gempanya rata, 6,4 SR. Dulu, gempa Aceh tahun 2004 itu 8,9 SR dan belum lama ini Aceh gempa lagi 6,5 SR. 

Setelah gempanya berhenti, gue sama anak-anak organisasi masih stay di selasar lantai 4. Gue ngerasa udah bener-bener berhenti, yaudah gue masuk lagi ke student center. Baru yang lain ngikutin dan kita semua ngelanjutin presentasi, eh toa RIK bunyi, nyuruh semua orang yang lagi aktivitas di lantai atas buat turun ke bawah takut ada gempa susulan. Tapi disini gue yakin gak tau kenapa, gempanya cuma sekali. Gue mikir gini karena emang yang sebelum-sebelumnya kalau ada berita gempa ya cuma sekali aja ramenya. Yaudah kita semua beres-beres dan turun, aktivitas dilanjut di selasar lantai 1 jadinya.

Pas pertama kali duduk di lantai pasca gempa, gue ngerasa masih geter. Tapi gue gak yakin, gue curiga ini kaki gue yang gemeter atau emang buminya masih geter. Akhirnya gue megang lantai make telapak tangan, ternyata buminya udah tenang. Berarti kaki gue yang gemeter wkwkwkwk. 

Jujur aja, sebelum kejadian gempa ini, tepatnya di semester 3, gue dapet salah satu materi keperawatan jiwa tentang penyakit trauma pasca bencana, namanya Post Traumatic Stress Disorder (PTSD). Berawal dari bencana yang membuat dampak tidak menyenangkan, tidak terlupakan, bahkan trauma berakhir pada respon tidak percaya yang dapat berlanjut hingga tidak berdaya. Dulu gue pas belajar ini kaya nyepelein gitu, kaya "ah emang bakal segitunya apa". Sekarang gue tau gimana rasanya dan emang sangat-sangat mungkin akan menimbulkan trauma yang segitunya apalagi kalau bencananya sangat-sangat parah kaya tsunami Aceh. Jangankan yang parah banget, yang kaya tadi aja gue masih keinget sampe sekarang. 

Kita gak akan bisa benar-benar paham bagaimana rasanya ada di posisinya jika kita tidak pernah mengalami apa yang dia alami. Akan lebih mudah memahami bagaimana rasanya jika kita pernah mengalami apa yang dia alami. Terakhir, menurut gue, suara itu memiliki energi tergantung bagaimana seseorang memainkan volume dan kata. Kalimat yang positif dengan nada bicara yang menggebu, bisa meningkatkan semangat hidup seseorang dan bisa menumbuhkan harapan yang baik. Hal itu tentunya dengan penekanan bahwa setiap orang memiliki kekuatan. Support berupa atensi secara penuh dan menjadi tempat bercerita dapat meringankan beban yang memenuhi pikiran korban. Stres itu adalah hal yang normal, namanya orang hidup pasti stres, kalau gak stres berarti udah gak hidup. 

------------------------------------------------------------------------------------------

Btw, abis gempa malah jadi pada bercanda di grup. 

2 komentar:

  1. Pas gempa pertama gw kira kaki gw yang getar, eh ternyata emang beneran gempa. Temen-temen pada lari, gw baru lari, wkwkwkwk

    BalasHapus